Jumat, 30 April 2021

CERME (Cerita dari Meme) : Menuju Indonesia 4.0

Suatu hari di sebuah negara, petinggi-petinggi di sana sedang sibuk membicarakan sebuah
proyek besar. Proyek ini menyangkut kehidupan rakyat negaranya dalam jangka waktu lama.
Kertas yang ada di atas meja itu terlihat bertuliskan Menuju Indonesia 4.0.

Peserta rapat di sana terlihat menjaga jarak, mengenakan masker, serta sudah mencuci tangan. Katanya, sih, enggak percaya sama virus yang sedang merajalela, tapi protokol kesehatan tetap dilakukan biar dapat izin aja.

Ups

“Kita akan membangun sebuah sillicon valley!” seru salah satu petinggi rapat. Peserta rapat yang lain mengangguk, menyambut baik ide tersebut. Namun, salah satu peserta garuk-garuk kepala.

Sillicon valley tuh apa, Pak?”

Ndeso!” Merasa paling gaul, bapak petinggi rapat searching google untuk menjelaskan. Akan tetapi, loading-nya malah lama sekali!

“Coba restart dulu, Pak..”


Kerjaan admin Indihome setap saat


“Aduh, pokoknya gini, deh! Makanan yang ada di sana akan dibantu oleh teknologi!” seru bapak petinggi, tidak mau menjelaskan lagi.

Tjakep!” tanggap peserta rapat. Peserta yang tidak tahu sillicon valley pun manggut-manggut.


Sangat canggih bukan?


“Kemudian lalu lintas akan dibantu oleh robot!”

Mantul!


Robot ini maksudnya


“Warga bisa 3D print!

Beeeeuh!

Peserta rapat makin bersemangat, tak lupa mengacungkan dua jempol sebagai apresiasi. Di benak mereka, terlintas hal-hal apa saja yang akan mereka lakukan jika tinggal di tempat yang penuh dengan teknologi.



Bayangin aja dulu


“Ada fotokopi!”

….Hening.

“Fotokopi buat apa, Pak?”

“Lah, buat fotokopi KTP, akta kelahiran, KK, SIM, dan lain-lain di data Dukcapil lah!”



Siapa tahu masih pakai fotokopian


Di tengah rapat, pintu tiba-tiba terbuka. Terlihat sosok mengerikan, gelap, membanting pintu dengan kasar. Lantas berkata…

Ngok!

Rupanya itu seekor babi.

Ngok! Sok sok mau bikin sillicon valley, ngok! Kami enggak salah apa-apa, malah ada keluarga kami yang ditangkap karena dituduh ngambil duit warga, ngok! Iri dengki pula kalau ada yang punya duit banyak, tapi malah kami yang dituduh!”


Kasihan babi


Salah satu babi lain menambahkan, “Tau tuh, ngok! Padahal dia sendiri yang lupa kalau duitnya dipinjemin ke temennya dan enggak dibalikin!”



Awas lupa bayar utang


Urusan dengan para babi belum selesai, datang satu pasukan bola hijau bergelinding memasuki ruangan. Ketua mereka, dengan ukuran yang lebih besar menancapkan sebuah bendera di tubuhnya sendiri, bendera itu bertuliskan Persatuan Klepon Indonesia.

“Kami juga dituduh! Bisa-bisanya kami dituduh makanan yang tidak islami! Padahal kami biasa menemani para warga di saat saat lebaran! Mau masuk era 4.0 gimane kalau persatuan aje belum dijaga!”

Seruan tetua klepon itu disambut meriah oleh para Rapon, alias rakyat klepon. Lalu klepon yang berukuran sedikit lebih kecil pun menggelinding di samping tetua klepon, sepertinya itu adalah istrinya.

“Padahal tuh ya, yang haram tuh si bakso beranak! Bapaknya aje kagak ada!” Malah julid.


Mungkin bapaknya yang suka pakai walkie talkie


Ruang rapat menjadi gaduh, banyak yang memprotes proyek 4.0 ini karena dirasa belum siap untuk beradaptasi dengan teknologi yang ada. Ruang rapat makin gaduh, saling beradu argumen.

Ada yang masih mendukung pembangunan sillicon valley tersebut, ada yang mulai menolak.
Salah seorang warga desa pun berteriak menggunakan toa, membuat kaget semua orang.

SEBELUM MENUJU 4.0, MENDING BIKIN TOILET DULU! MASIH BANYAK YANG BAB SEMBARANGAN, TAU!”


Data tahun 2020 menyebutkan bahwa di Indonesia
terdapat 32,24 juta jiwa masih Buang Air Besar sembarangan

END

Catatan dari penulis :
Kisah ini hanya fiksi semata, tetapi kasus-kasus di dalamnya adalah nyata. Penulis bermaksud menyampaikan masalah-masalah yang ada di Indonesia dari keluh-kesah netizen melalui tweet dan juga meme. Dibuat untuk tugas, tetapi di-post di sini juga! Hehe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TRIGGER WARNING: Welcome to my office!

  ㅤㅤㅤ ㅤㅤㅤSelamat datang di kantorku! Ayo masuk! ㅤㅤㅤAh, tidak terlihat seperti kantor, ya? Memang, kubuat suasana senyaman mungkin supaya kli...