Semakin kebutuhan terpenuhi, skala kebahagiaan juga semakin besar.
Hal tersebut yang saya sadari ketika melihat seorang tukang parkir yang senang mendapatkan makanan. Hari itu, saya tidak mau makan makanan yang ada di rumah, sehingga memutuskan untuk membeli makanan di luar. Saya memutuskan membeli kwetiau dan duduk menunggu Abangnya menyiapkan pesanan. Kemudian, tukang parkir itu menghampiri Abang penjual.
"Wah, alhamdulillah! Ada yang ngasih tadi di jalan."
Kejadian itu sebenarnya mungkin biasa saja, tetapi saat tukang parkir menyatakan perasaan senangnya, perasaan saya merasa tersentil. Saya, memiliki makanan yang bisa dimakan, tetapi saya mencari makanan lain yang menurut saya lebih enak. Sedangkan tukang parkir tersebut, malah tidak memiliki pilihan. Ketika dirinya diberi makanan, itulah makan malamnya. Uang yang akan ia beli untuk makan malamnya, barangkali terpikir lebih baik disimpan saja.
Selintas, saya teringat dengan Basic Needs Theory milik Abraham Maslow. Kebutuhan fisiologis seperti makanan, minuman, tempat tinggal, dan lain sebagainya adalah kebutuhan yang bersifat darurat. Tentu saja, manusia tidak bisa hidup tanpa adanya kebutuhan itu terpenuhi.
Namun, beberapa orang juga berbeda. Kebutuhan fisiologis ini, bagi mereka, bukan sekadar mendapatkan makanan. Ketika tidak merasa kesulitan mendapatkan makanan, opsional untuk jenis makanan bisa dipertimbangkan. Orang kaya yang ingin hidup sehat, mungkin akan berpikir dua kali untuk makan nasi uduk di pinggir jalan (kemungkinan besar juga tidak akan), bahkam meski harganya kurang dari harga sepuluh ribu. Toh, uang sepuluh ribu bukanlah hal sulit, 'kan?
Sebaliknya, kebanyakan orang-orang dengan ekonomi rendah mungkin lebih memilih makanan yang bisa mereka makan saja. Sebagai keterangan, saya juga bukan dari keluarga kaya, dan saya melihat contoh ini dari bapak. Terkadang, ia mengatakan, "Yah, sa-aya-aya wé." (Yah, seadanya saja)
Artinya, semakin kebutuhan dasar bisa terpenuhi, kebutuhan yang berada di atas akan lebih diprioritaskan. Setelah fisiologis, di atasnya ada kebutuhan akan rasa aman, sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri yang berada di puncak segitiga kebutuhan. Sementara, kebutuhan fisiologis dan rasa aman adalah kebutuhan dasar.
Tidak semua kebutuhan bisa dicapai 100 persen. Selama merasa cukup, kebutuhan yang hanya tercapai 70 persen pun bisa dikatakan terpenuhi. Kembali ke cerita tukang parkir tadi, mungkin kebutuhan fisiologisnya hanya tercapai "makan dua kali sehari". Namun, apabila ia bisa makan dua kali sehari setiap harinya, ia bisa saja merasa cukup.
Tentunya tidak semua orang bisa tahan dalam situasi demikian. Banyak orang yang berusaha menggapai validasi, ketenaran di media sosial, pendidikan yang tinggi, hal lain semacamnya untuk menunjang dirinya menjadi lebih baik. Pada dasarnya, manusia memang makhluk yang ingin berkembang menunjukkan dirinya. Bisa dilihat banyak orang yang mulai dari nol, akhirnya menjadi seorang yang sukses.
Akan tetapi, tak sedikit orang yang ditemui kelihatannya tidak ada perubahan. Selama bertahun-tahun, saya mengenal banyak penjual sewaktu saya sekolah dasar. Adik saya—memiliki selisih 8 tahun—sekolah di SD yang sama dengan saya, dan penjual yang saya kenal itu masih berada di sana. Saya lulus SD, SMP, SMA, sampai akhirnya kuliah. Saya mengalami perubahan dari waktu ke waktu, tidak berada di tempat yang sama, sementara beberapa orang terus melakukan rutinitas tersebut selama bertahun-tahun.
Sebuah pertanyaan pun terlontar. Apakah saya mengalami perubahan karena umur saya masih muda? Akankah saya seperti demikian di umur dewasa nanti? Bukankah hidup memang demikian?
Hal tersebut juga pernah dibahas oleh Abraham Maslow. Beberapa manusia, tidak memiliki motivasi untuk berkembang karena berada di titik rendah dalam waktu yang lama. Layaknya zona nyaman, keluar mencoba hal baru pun mungkin tidak terpikirkan. Bagi sebagian orang, mengambil risiko sama saja dengan mati. Dan membicarakan tentang kematian, pernahkah kau terpikirkan bahwa ...
... kasus bunuh diri lebih banyak dilakukan oleh orang-orang yang hidupnya terlihat lebih "enak"?
Sebutkan saja para musisi yang telah melakukan world tour, penjualan album ratusan ribu atau lebih, dan banyak disukai oleh orang-orang. Ada beberapa di antara mereka yang mengakhiri hidup dengan cara tragis. Bila merujuk pada hieraeki kebutuhan milik Maslow, pertanyaannya, kebutuhan apa yang tidak bisa mereka penuhi? Tentu jawabannya akan sangat kompleks. Di atas kebutuhan dasar, ada kebutuhan sosial yang mencakup akan kasih sayang. Di atas kebutuhan sosial, terdapat kebutuhan akan penghargaan. Berlanjut di puncak, kebutuhan akan aktualisasi diri yang tidak semua orang bisa mencapainya. Untuk mencapai kebutuhan di tingkat atas, haruslah memenuhi kebutuhan yang berada di bawahnya terlebih dahulu.
Dalam kasus ini, kebutuhan akan kasih sayang pun rasanya jarang sekali bisa terpuaskan. Banyak remaja yang mencari pasangan untuk mencapai kebutuhannya, tetapi seringkali hubungan itu kandas dan kebutuhan itu menjadi tidak terpenuhi. Lebih jauh lagi apabila tidak mendapatkan kasih sayang keluarga, kebutuhan sosial akan kasih sayang pun semakin tidak terpenuhi.
Ini berbeda dengan orang-orang yang memiliki popularitas dengan banyak orang yang mencintainya. Mengapa seseorang mengabaikan komentar-komentar positif orang lain tentang dirinya, kemudian lebih memilih komentar negatif untuk dibalas? Apakah karena ia sudah "terbiasa" mendapatkan cinta tersebut, sehingga ia tidak merasa kesulitan untuk memenuhi kebutuhan itu? Layaknya makanan yang bagi sebagian orang mudah didapatkan, tak sedikit pula orang yang membuang sisa makanan mereka. Menghargai sesuatu karena mudah mendapatkannya rupanya bisa dikatakan merupakan hal yang sulit.
Manusia adalah makhluk yang tidak akan mencapai kepuasan. Mungkin, kebutuhan-kebutuhan yang mudah didapatkan ini terkadang tidak dihargai karena manusia sendiri tidak akan puas dengan apa yang didapatkannya. Ketika seseorang mendapatkan penghargaan tingkat kecamatan, kebahagiaannya akan meningkat apabila mendapatkan penghargaan tingkat kota, kemudian provinsi, nasional, sampai internasional. Semakin manusia berkembang, tingkat kebahagiaannya akan semakin tinggi.
Perlu diingat, bahagia dan senang adalah dua hal yang berbeda. Bahagia adalah ketenangan batin, bukan pemuasan yang sifatnya sementara layaknya senang. Artinya, jika kebahagiaannya belum tercapai, ketenangan itu tidak akan bisa didapatkan. Apalagi, di era yang penuh akan kebutuhan validasi ini, tak sedikit orang yang diselimuti perasaan gelisah. Khawatir akan pemenuhan kebahagiaannya.
Semakin kebutuhan terpenuhi, skala kebahagiaan juga akan semakin besar. Jika kematian banyak diserobot oleh orang-orang yang hidupnya terlihat lebih "enak", lantas bagaimana dengan orang-orang yang hidupnya terkesan sulit?
Ketika pandemi melanda, supir ojek online bercerita pada saya, "Kalau ada nasi sama garem, saya makan aja itu, Neng." Bukankah ia sedang berada di titik terendah hidupnya? Namun, yang saya lihat, ia berusaha untuk tetap hidup. Survive akan kehidupan yang semakin lama rasanya semakin pahit. Bukannya tidak memiliki motivasi untuk berkembang, tetapi demotivasi lebih banyak mengelilingi. Demotivasi tidak selalu buruk, tetapi juga diperlukan untuk tetap mendapatkan ketenangan.
Tidak perlu membandingkan nasib siapa yang lebih melarat untuk memiliki rasa syukur. Setiap orang memiliki kisahnya masing-masing dan kesulitan yang bergantung pada kekuatan dirinya sendiri. Barangkali, kita jarang melihat kehebatan orang-orang yang berada di bawah demotivasi ini. Namun, siapa sangka, bahwa orang-orang inilah yang selalu memiliki keinginan untuk tetap hidup. Toh, pada akhirnya ...
We're all gonna die.
— Sufjan Stevens, Fourth of July