PENGALAMAN IKUT TZUCHING CAMP TAHUN INI!
Di tanggal 28-29 September kemarin, gue berkesempatan mengikuti Tzuching Camp di Tzuchi Jakarta, terletak di kawasan PIK. Bagi kalian yang belum tau apa itu Tzuching, gue jelasin sedikit dulu. Kalau di daerah kalian ada Yayasan Buddha Tzuchi, nah anak muda yang masih berkuliah S1 dan menggunakan seragam biru putih, itu adalah Tzuching. Di Tzuchi, kita bisa belajar banyak hal; seperti isyarat tangan, pelestarian lingkungan, menjadi panitia acara, dan masih banyak lagi.
Hari pertama Tzuching Camp yang bertemakan Tzuching Power ini, masih diisikan dengan game dan pembicaraan. Gue seneng banget bisa kenalan sama anak-anak universitas lain; ada UPH, BINUS, Atma Jaya, dan lainnya yang gue juga lupa. Hahaha. XD Kami juga membuat mind maping untuk sosialisasi lingkungan di hari berikutnya.
Hari kedua, barulah kita turun ke jalan untuk menjalankan misi.
Jadi yang pertama dilakuin, kami berangkat pagi-pagi untuk jual sedotan. Berhubung kita dapet tempat untuk bebas ke mana aja, kami pergi ke kawasan PIK di mana orang-orang lagi olahraga cantik. Sebenarnya, gue sempat pesimis, mana ada orang yang mau beli stainless straw, kalaupun ada yang beli, paling enggak akan kasih lebih. Ternyata, gue salah besar banget. Dari harga sedotan yang 20 ribu itu, yang pertama kita tawarin kasih uang 100 ribu.
Gila, gue sendiri panik, ada uang kembalian enggak ya? Tapi ternyata dia kasih semua dan hanya ambil satu sedotan. Wow, gue jadi kagum sendiri. Lanjutnya, ternyata masih banyak orang yang membeli stainless straw, ada juga yang enggak beli tapi ikut menyumbangkan. Wah, negative thinking gue terpatahkan. Dari 10 sedotan yang harga satunya 20 ribu, kami berhasil mengumpulkan dana sekitar 800 ribu! Nah, keuntungannya akan disumbangkan untuk membantu Palu. Ingat kan, Palu saat itu terkena gempa?
Anyway, Jakarta di jam 7 pagi aja panas banget. Tapi panasnya itu udaranya, bukan dari sinar matahari. Langitnya enggak cerah sama sekali, bikin gue makin prihatin sama Jakarta sekarang. Apalagi gue termasuk orang yang kalau udah panas, bawaannya marah-marah terus. Satu jam di sana udah pengen balik aja gue. :(
Setelah menjual stainless straw sambil bersosialisasi mengenai lingkungan, kami lanjut ke toko kelontong. Penjaga tokonya menyambut ramah saat kami bilang akan mewawancarai mereka, tidak lupa mereka juga memberikan sumbangan untuk Palu. Kami juga membeli beras, teh, sabun, dan... satu lagi lupa maaf gengs :(, untuk diberikan kepada pekerja jalanan.
Kami menemui satu orang petugas kebersihan dan satu orang satpam. Gue mewawancarai Bapak Sanusi, seorang petugas kebersihan. Bapak Sanusi menyambut dengan ramah, ia sendiri sudah berumur 74 tahun namun masih aktif bekerja. Kagum! Tapi dengan jujur ia bilang duka bekerjanya banyak (sambil tertawa) dan bayarannya hanya 50 ribu per hari. Duh :')
Akhirnya kami memberikan beras, teh, dan sabun itu kepada mereka. Mereka kelihatan senang banget, apalagi beras kan mahal ya. Tak lupa kita foto juga!
Seneng banget bisa membuat orang lain bahagia! Kami kembali ke Jing Si dan beristirahat, lalu makan siang. Pssst! Di Tzuchi. makanannya enak-enak lho! Tapi jangan berharap ada daging ya di sini! Hahaha.
Setelahnya, kami dan kelompok lain mempresentasikan hasil misi. Dengar cerita kelompok lain, ternyata mereka pun beruntung. Bahkan, ada yang ditraktir makan segala! Haha, keren banget! Masih banyak orang baik dan peduli dengan bumi!
Selama gue tinggal di Bandung, gue takut banget untuk tinggal di Jakarta. Mungkin, bagi kalian yang pernah baca utasnya kaskus soal 'Saya Takut Hidup di Jakarta' menjadi hal yang mengerikan bagi yang ingin merantau ke sana. Beruntungnya, gue ketemu orang-orang baik, dan saat gue turun ke jalan pun gue masih menemui orang-orang baik.
Gue menemui berbagai macam orang dengan berbagai karakter, gue juga belajar untuk lebih peduli dengan orang lain, belajar untuk enggak mudah berpikiran negatif sebelum mencoba. Rasanya, gue pengen cepet-cepet camp lagi deh, hahaha.
Di tahun depan, Tzuching Camp harus 500 orang pokoknya!








