Minggu, 24 April 2022

TRIGGER WARNING: Welcome to my office!

 


ㅤㅤㅤ

ㅤㅤㅤSelamat datang di kantorku! Ayo masuk!


ㅤㅤㅤAh, tidak terlihat seperti kantor, ya? Memang, kubuat suasana senyaman mungkin supaya klien-ku bisa bersantai dengan nyaman. ㅤㅤㅤ

ㅤㅤㅤHahaha, ya.. kau bisa menyebutku demikian, tapi aku tetap manusia.


ㅤㅤㅤNah, ini secangkir teh untukmu karena ini kesempatanmu untuk mewawancaraiku. Silakan duduk! Sofanya empuk bukan? Baru kubeli minggu lalu.


ㅤㅤㅤJadi, apa yang ingin kau ketahui tentangku?ㅤ

ㅤㅤㅤ

ㅤㅤㅤUhm.. ya, aku pemilik situs itu. Aku membantu mereka yang sedang dalam kesulitan, biasanya mereka menghubungi aku paling lambat seminggu sebelum datang.



ㅤㅤㅤAwal berpikir untuk melakukan ini, aku merasa kasihan. Mereka ingin, tapi tidak bisa. Jadi kuputuskan untuk menolong mereka. Mengulurkan tanganku, dan membantu sebisaku.



ㅤㅤㅤDalam satu bulan pertama... sekitar enam orang. Tapi lama kelamaan, semakin bertambah. Bahkan pernah sampai lima belas orang dalam sebulan! Bayangkan itu.



ㅤㅤㅤIya, jadi karena itulah aku membatasi klien-ku dalam sebulan hanya lima orang saja. Ada yang sampai masuk waiting list untuk bulan depan.



ㅤㅤㅤAku mempromosikan lewat internet. Bukan woogle, tentunya. Agak sulit untuk orang awam terutama yang tidak paham internet, tapi sejauh ini peminatnya juga banyak. Jadi bukan masalah.



ㅤㅤㅤTestimoni, sayangnya tidak ada. Hahaha, tapi aku yakin aku memuaskan klien-ku. Apa kau berminat?



ㅤㅤㅤOh, tidak apa. Memang lebih baik tidak, karena aku hanya membantu orang-orang yang memang ingin. Kebanyakan wanita, tapi ada pria juga.


ㅤㅤㅤAku?




ㅤㅤㅤAwalnya aku ingin melakukannya juga, tapi begitu aku menemukan ide ini, rasanya lebih baik begini.



ㅤㅤㅤProsedurnya mudah, kau tinggal mengisi formulir yang ada di situs tersebut. Lalu, aku akan menghubungimu lewat e-mail untuk menanyakan konfirmasi. Selanjutnya, aku akan mengirim pesan mengenai waktu untuk datang. Kau tinggal datang.



ㅤㅤㅤUhm, biasanya aku mengikuti jadwal klien-ku. Aku memberikan mereka kebebasan.



ㅤㅤㅤSaat mereka datang, aku akan membuat mereka bersantai dulu. Menyajikan makanan favorit mereka. Ah iya, aku lupa bilang. Aku juga akan menanyakan mengenai hal-hal kesukaan mereka, lalu aku menyediakannya.



ㅤㅤㅤKebanyakannya.. mereka ingin makanan. Ada yang meminta sushi buatan seorang ibu. Agak sulit, tapi akhirnya aku mendapatkannya juga.



ㅤㅤㅤSelain makanan? Uh.. pernah suatu kali ada yang ingin bermain catur, jadi kutemani dia. Katanya, dia ingin menang sekali saja.



ㅤ ㅤIya, dia menang melawanku. Itu membuatnya senang, tapi tetap tidak mengubah keputusannya.



ㅤㅤㅤLalu kuberi klien-ku opsi, biasanya orang-orang akan memilih opsi B karena itu paling mudah. Tapi aku tidak menyarankannya karena itu menyiksa.



ㅤㅤㅤJadi kusarankan opsi A atau C. Itu kalau dia memang mau sendiri, kalau perlu bantuanku, opsinya berbeda lagi.



ㅤㅤㅤKalau perlu bantuanku, biasanya mereka memilih opsi D. Itu tidak menyulitkanku, jadi aku mengiyakan langsung saja.



ㅤㅤㅤSetelah mereka memilih, mereka membayar dan menanda tangan. Voila, selesai! Aku tinggal melakukan pekerjaanku. Tidak sampai satu jam.



ㅤㅤㅤKamera yang kugunakan juga mahal. Hei, aku mendokumentasikannya sebaik mungkin. Lihat ini, ini, dan ini!



ㅤㅤㅤNah, bagus kan? Tentu, aku pernah mengikuti klub fotografi sewaktu sekolah. Gambarnya, kukirim ke keluarga atau kekasih mereka. Biasanya mereka histeris, ada juga yang senang. Aku tahu itu jahat, tapi begitulah kenyataannya.


ㅤㅤㅤSebagai bukti lain, aku juga menyediakan rekaman, apa yang klien-ku katakan.



ㅤㅤㅤAncaman polisi? Ada. Tapi mereka mau apa? Kan sebelum itu, ada perjanjian yang harus ditandatangani. Jadi aku tidak bersalah.



ㅤㅤㅤKasihan? Bukankah lebih kasihan kalau membiarkan mereka tetap hidup seperti itu? Maksudku, siapa yang mau hidup saat segalanya sudah hancur? Kutekankan lagi, aku membantu mereka.



ㅤㅤㅤUh, kau agamis ya. Maaf, tapi aku biasanya meyakinkan klien-ku bahwa tidak ada yang namanya surga ataupun neraka. Itu dongeng orang zaman dulu supaya orang-orang tidak bertindak bodoh.



ㅤㅤㅤYa, jadi jika ada orang yang masih ragu, kubiarkan dia menonton video bahwa.. tidak ada yang namanya Tuhan. Sains tidak meyakini itu.



ㅤㅤㅤYang masih tidak yakin? Ada. Tapi tetap saja mereka tidak mengubah keputusan untuk melakukannya. Jadi, aku tetap melakukan pekerjaanku.



ㅤㅤㅤBiasanya keluarga meminta untuk dikremasi saja olehku, tentu ada biaya tambahan. Ada juga yang mengusirku, mengatakan itu bukan urusan mereka. Jadi langsung aku kubur di halaman belakang. Dengan layak, tentunya.



ㅤㅤㅤTentu saja, aku juga manusia. Aku masih punya nurani.



ㅤㅤㅤHantu? Aku belum pernah melihatnya.. Kalaupun ada, tentu mereka berterima kasih padaku. Aku yakin begitu.



ㅤㅤㅤEh, kau dari tadi belum meminum teh buatanku! Ayo minum!



ㅤㅤㅤEnak? Iya, itu biasanya untuk klien-ku kalau mereka tidak meminta makanan. Kan sudah kubilang, aku memberikan pelayanan terbaik.



ㅤㅤㅤIni aneh jika orang mengharapkan bisnisku lancar, tapi aku sendiri berharap tidak. Aku juga ingin pekerjaan layak. Dan orang-orang juga hidup sebagaimana mestinya.



ㅤㅤㅤYa, terima kasih! Oh ngomong-ngomong, bayarannya promosikan situsku di majalahmu ya?



ㅤㅤㅤAku tidak tahu kata-kata yang cocok, intinya.. tulis saja, kalau kau mau mengakhiri kesedihanmu, bisa hubungi aku.


ㅤ ㅤ

ㅤㅤㅤ

Kamis, 17 Maret 2022

Cerita Kurir Pengantar Paket

 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐊𝐮𝐫𝐢𝐫 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫 𝐏𝐚𝐤𝐞𝐭

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━


ㅤㅤ“Keira, punya cerita menarik?” Di sela waktu makan siang, aku menyempatkan diri untuk mengerjakan tugas sastraku. Sudah pasti aku akan diomeli terlebih dahulu karena mengerjakan PR di meja makan. Sementara tangan kanan menulis, tangan kiri memegang sumpit. Yah, aku tidak bisa menulis menggunakan tangan kiri.


ㅤㅤ“Kehidupanku penuh olehmu,” dengusnya kesal. Benar, 'kan? Kemudian ia akan melanjutkan, “Dan tolong, kita bukan orang Barat yang memanggil dengan nama saja pada yang lebih tua! Kau harus sopan padaku!”


ㅤㅤKalau Kenta adalah nyamuk, omelan Keira adalah semprotan pembasminya. Masalahnya, Kenta sudah kebal. Jadi omelan itu tidak pernah dipedulikan, layaknya kata-kata yang masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Tanpa memedulikan omelan itu, Kenta hanya akan melanjutkan topik awalnya.


ㅤㅤ“Ah, aku benci tugas menulis. Maksudku—menulis cerita menarik?! Seperti anak SD saja. Memang apa cerita menarik dari anak umur 17 tahun di era digital ini? Kebanyakan sudah mengalami quarter life crisis lebih cepat,” ocehanku memenuhi ruangan. Atau mungkin satu rumah. Toh, hanya kami berdua di rumah jika tidak ada Ayah.


ㅤㅤ“Kau meminta saranku? Baiklah, apa yang kau lakukan di hari Jumat?”


ㅤㅤ“Dua hari lalu ... Aku melempar batu ke kolam milik Pak Shinohara.”


ㅤㅤKeira merengut. “Untuk apa?”


ㅤㅤ“Menghitung kecepatan batu tenggelam di kolam berdasarkan tingkat kedalaman air.”


ㅤㅤ“Uhm—oke. Lalu, bagaimana dengan kemarin? Hari Sabtu.”


ㅤㅤ“Aku mengambil batu-batu yang kulemparkan di kolamnya pada hari Jumat.”


ㅤㅤMendengus. “Sudahlah, hidupmu memang tidak menarik.”


ㅤㅤLupakan saja, Keira sama sekali tidak membantu. Menyebalkan sekali. Aku belum menuliskan sepatah kata pun, entah mau menulis apa. Oh, ayolah, aku lebih memilih mengerjakan seribu soal matematika daripada menulis satu cerita. Ini membuatku gila!


ㅤㅤGawaiku bergetar. Kutaruh sumpit dan menyalakan gawaiku, semoga saja ini tidak berhubungan dengan pa—


ㅤㅤ“Paket sialan.”


ㅤㅤRasanya masih dendam dengan kejadian minggu lalu. Aku tidak semangat bekerja, tapi masih membutuhkan uang. Setidaknya, gajinya cukup besar. Yah, walau harus siap di segala waktu karena pengiriman bersifat mendadak.


ㅤㅤKeira memandang aneh. “Kenapa? Pengirimanmu?”


ㅤㅤAh, ya. Dia baru saja mengetahui soal pekerjaan paruh waktuku minggu lalu SETELAH aku mengomel habis-habisan sepulang dari Osaka. Kuanggukkan kepala sebagai tanggapan. “Benar, di jam makan siang lagi.”


ㅤㅤApa mereka tidak bisa memberikan tugas di luar jam makan?! Menyebalkan. Dengan cepat, kuhabiskan makanku, layaknya orang dewasa yang bekerja kantoran. Mereka sampai harus makan berdiri untuk menghemat waktu. Hidup macam apa yang seperti itu? Memiliki banyak uang tetapi tidak bisa menikmati hasil jerih payahnya dengan baik. Konyol.


ㅤㅤKurang dari satu jam, aku sampai di Shabu-Shabu Course. Barang yang harus kuambil berada di tempat ini. Tidak perlu berlama-lama, aku tinggal mengambil paket, kirimkan, selesai. Begitu, 'kan?


ㅤㅤ“Ya, begitu. Kali ini hati-hati, pengirimanmu kali ini adalah makanan. Cupcake,” kata pria yang mengaku sebagai koki. Mungkin ia sudah tahu kalau aku memang ditugaskan untuk mengantarkan berbagai macam barang.


ㅤㅤ“Oh, ada yang ulang tahun?” tanyaku. Bukan penasaran, berbasa-basi saja.


ㅤㅤ“Tidak. Orang yang menerimanya terkena kanker otak, jadi cupcake-nya berbentuk ...”


ㅤㅤIa menjeda, kemudian membuka kotak itu. “OTAK MANUSIA!”


ㅤㅤSIALAN. Tidak—aku tidak takut pada bentuk cupcake-nya, melainkan karena “niat” yang dilakukan. Orang penderita kanker otak diberi cupcake berbentuk otak? Oke, jika ia memakannya—seperti menggambarkan kankernya menggerogoti otaknya. Ide gila, tapi menarik. Apa pemesannya sejenis psikopat?


ㅤㅤ“Kau mau coba?” Koki itu menawari satu cupcake yang tidak berada di kotak, lantas tertawa. Mungkin ia mengira kalau aku akan bergidik ngeri. Tidak, aku dengan senang hati menerimanya dan memakannya. Sial, rasanya enak.


ㅤㅤ”Apa rasa asli dari otak manusia memang seenak ini?” Aku menceletuk sambil mengunyah. Koki itu tidak menjawab, mungkin sebal karena ide jahilnya itu gagal. Ia langsung meninggalkanku dan kembali bekerja. Dasar aneh, memang ada tikus di balik topinya?!


ㅤㅤTrunk Hotel. Itu tujuanku selanjutnya. Aku penasaran siapa yang merencanakan ide gila ini, tetapi sepertinya kenyataan asli jauh lebih gila.


ㅤㅤ“Aku yang memesannya sendiri,” jelas pria itu. Jelas ia kelihatan tidak sehat, terlihat dari raut wajahnya yang pucat dan kepala botaknya. Ia si penderita kanker—mungkin baru menjalani kemoterapi. “Membayangkan kanker ini menggerogoti otakku, aku tidak perlu takut lagi menghadapi kematian.”


ㅤㅤDahiku berkerut. Mungkin itulah yang dilakukan orang saat putus asa: Melakukan hal aneh untuk membuat kekhawatirannya berkurang. Kami tidak punya waktu banyak untuk mengobrol, waktu dia untuk hidup pun tidak lama lagi. Kukatakan dokter hanya bisa memprediksi, jadi belum tentu akurat. Dalam hati, aku berkata tentu saja bisa lebih cepat? Hahaha.


ㅤㅤIni menarik. Kutuliskan cerita yang kualami hari ini untuk tugas menulis. Rasanya kurang pantas juga menjadikan kisah sedih orang lain untuk keuntungan pribadi. Namun, saat aku ingin mengunjunginya seminggu kemudian, berhubung aku mendapat nilai A—sangat disayangkan.


ㅤㅤIa mati lebih cepat, sesuai perkiraanku: Setelah semua cupcake itu habis dimakannya.


━━━━━━━━━━ END.

Rabu, 26 Januari 2022

Semakin kebutuhan terpenuhi, skala kebahagiaan juga semakin besar

Semakin kebutuhan terpenuhi, skala kebahagiaan juga semakin besar.


Hal tersebut yang saya sadari ketika melihat seorang tukang parkir yang senang mendapatkan makanan. Hari itu, saya tidak mau makan makanan yang ada di rumah, sehingga memutuskan untuk membeli makanan di luar. Saya memutuskan membeli kwetiau dan duduk menunggu Abangnya menyiapkan pesanan. Kemudian, tukang parkir itu menghampiri Abang penjual.


"Wah, alhamdulillah! Ada yang ngasih tadi di jalan."


Kejadian itu sebenarnya mungkin biasa saja, tetapi saat tukang parkir menyatakan perasaan senangnya, perasaan saya merasa tersentil. Saya, memiliki makanan yang bisa dimakan, tetapi saya mencari makanan lain yang menurut saya lebih enak. Sedangkan tukang parkir tersebut, malah tidak memiliki pilihan. Ketika dirinya diberi makanan, itulah makan malamnya. Uang yang akan ia beli untuk makan malamnya, barangkali terpikir lebih baik disimpan saja. 


Selintas, saya teringat dengan Basic Needs Theory milik Abraham Maslow. Kebutuhan fisiologis seperti makanan, minuman, tempat tinggal, dan lain sebagainya adalah kebutuhan yang bersifat darurat. Tentu saja, manusia tidak bisa hidup tanpa adanya kebutuhan itu terpenuhi. 


Namun, beberapa orang juga berbeda. Kebutuhan fisiologis ini, bagi mereka, bukan sekadar mendapatkan makanan. Ketika tidak merasa kesulitan mendapatkan makanan, opsional untuk jenis makanan bisa dipertimbangkan. Orang kaya yang ingin hidup sehat, mungkin akan berpikir dua kali untuk makan nasi uduk di pinggir jalan (kemungkinan besar juga tidak akan), bahkam meski harganya kurang dari harga sepuluh ribu. Toh, uang sepuluh ribu bukanlah hal sulit, 'kan?


Sebaliknya, kebanyakan orang-orang dengan ekonomi rendah mungkin lebih memilih makanan yang bisa mereka makan saja. Sebagai keterangan, saya juga bukan dari keluarga kaya, dan saya melihat contoh ini dari bapak. Terkadang, ia mengatakan, "Yah, sa-aya-aya wé." (Yah, seadanya saja)


Artinya, semakin kebutuhan dasar bisa terpenuhi, kebutuhan yang berada di atas akan lebih diprioritaskan. Setelah fisiologis, di atasnya ada kebutuhan akan rasa aman, sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri yang berada di puncak segitiga kebutuhan. Sementara, kebutuhan fisiologis dan rasa aman adalah kebutuhan dasar. 


Tidak semua kebutuhan bisa dicapai 100 persen. Selama merasa cukup, kebutuhan yang hanya tercapai 70 persen pun bisa dikatakan terpenuhi. Kembali ke cerita tukang parkir tadi, mungkin kebutuhan fisiologisnya hanya tercapai "makan dua kali sehari". Namun, apabila ia bisa makan dua kali sehari setiap harinya, ia bisa saja merasa cukup. 


Tentunya tidak semua orang bisa tahan dalam situasi demikian. Banyak orang yang berusaha menggapai validasi, ketenaran di media sosial, pendidikan yang tinggi, hal lain semacamnya untuk menunjang dirinya menjadi lebih baik. Pada dasarnya, manusia memang makhluk yang ingin berkembang menunjukkan dirinya. Bisa dilihat banyak orang yang mulai dari nol, akhirnya menjadi seorang yang sukses.


Akan tetapi, tak sedikit orang yang ditemui kelihatannya tidak ada perubahan. Selama bertahun-tahun, saya mengenal banyak penjual sewaktu saya sekolah dasar. Adik saya—memiliki selisih 8 tahun—sekolah di SD yang sama dengan saya, dan penjual yang saya kenal itu masih berada di sana. Saya lulus SD, SMP, SMA, sampai akhirnya kuliah. Saya mengalami perubahan dari waktu ke waktu, tidak berada di tempat yang sama, sementara beberapa orang terus melakukan rutinitas tersebut selama bertahun-tahun. 


Sebuah pertanyaan pun terlontar. Apakah saya mengalami perubahan karena umur saya masih muda? Akankah saya seperti demikian di umur dewasa nanti? Bukankah hidup memang demikian?


Hal tersebut juga pernah dibahas oleh Abraham Maslow. Beberapa manusia, tidak memiliki motivasi untuk berkembang karena berada di titik rendah dalam waktu yang lama. Layaknya zona nyaman, keluar mencoba hal baru pun mungkin tidak terpikirkan. Bagi sebagian orang, mengambil risiko sama saja dengan mati. Dan membicarakan tentang kematian, pernahkah kau terpikirkan bahwa ...


... kasus bunuh diri lebih banyak dilakukan oleh orang-orang yang hidupnya terlihat lebih "enak"? 


Sebutkan saja para musisi yang telah melakukan world tour, penjualan album ratusan ribu atau lebih, dan banyak disukai oleh orang-orang. Ada beberapa di antara mereka yang mengakhiri hidup dengan cara tragis. Bila merujuk pada hieraeki kebutuhan milik Maslow, pertanyaannya, kebutuhan apa yang tidak bisa mereka penuhi? Tentu jawabannya akan sangat kompleks. Di atas kebutuhan dasar, ada kebutuhan sosial yang mencakup akan kasih sayang. Di atas kebutuhan sosial, terdapat kebutuhan akan penghargaan. Berlanjut di puncak, kebutuhan akan aktualisasi diri yang tidak semua orang bisa mencapainya. Untuk mencapai kebutuhan di tingkat atas, haruslah memenuhi kebutuhan yang berada di bawahnya terlebih dahulu. 


Dalam kasus ini, kebutuhan akan kasih sayang pun rasanya jarang sekali bisa terpuaskan. Banyak remaja yang mencari pasangan untuk mencapai kebutuhannya, tetapi seringkali hubungan itu kandas dan kebutuhan itu menjadi tidak terpenuhi. Lebih jauh lagi apabila tidak mendapatkan kasih sayang keluarga, kebutuhan sosial akan kasih sayang pun semakin tidak terpenuhi.


Ini berbeda dengan orang-orang yang memiliki popularitas dengan banyak orang yang mencintainya. Mengapa seseorang mengabaikan komentar-komentar positif orang lain tentang dirinya, kemudian lebih memilih komentar negatif untuk dibalas? Apakah karena ia sudah "terbiasa" mendapatkan cinta tersebut, sehingga ia tidak merasa kesulitan untuk memenuhi kebutuhan itu? Layaknya makanan yang bagi sebagian orang mudah didapatkan, tak sedikit pula orang yang membuang sisa makanan mereka. Menghargai sesuatu karena mudah mendapatkannya rupanya bisa dikatakan merupakan hal yang sulit. 


Manusia adalah makhluk yang tidak akan mencapai kepuasan. Mungkin, kebutuhan-kebutuhan yang mudah didapatkan ini terkadang tidak dihargai karena manusia sendiri tidak akan puas dengan apa yang didapatkannya. Ketika seseorang mendapatkan penghargaan tingkat kecamatan, kebahagiaannya akan meningkat apabila mendapatkan penghargaan tingkat kota, kemudian provinsi, nasional, sampai internasional. Semakin manusia berkembang, tingkat kebahagiaannya akan semakin tinggi.


Perlu diingat, bahagia dan senang adalah dua hal yang berbeda. Bahagia adalah ketenangan batin, bukan pemuasan yang sifatnya sementara layaknya senang. Artinya, jika kebahagiaannya belum tercapai, ketenangan itu tidak akan bisa didapatkan. Apalagi, di era yang penuh akan kebutuhan validasi ini, tak sedikit orang yang diselimuti perasaan gelisah. Khawatir akan pemenuhan kebahagiaannya. 


Semakin kebutuhan terpenuhi, skala kebahagiaan juga akan semakin besar. Jika kematian banyak diserobot oleh orang-orang yang hidupnya terlihat lebih "enak", lantas bagaimana dengan orang-orang yang hidupnya terkesan sulit?


Ketika pandemi melanda, supir ojek online bercerita pada saya, "Kalau ada nasi sama garem, saya makan aja itu, Neng." Bukankah ia sedang berada di titik terendah hidupnya? Namun, yang saya lihat, ia berusaha untuk tetap hidup. Survive akan kehidupan yang semakin lama rasanya semakin pahit. Bukannya tidak memiliki motivasi untuk berkembang, tetapi demotivasi lebih banyak mengelilingi. Demotivasi tidak selalu buruk, tetapi juga diperlukan untuk tetap mendapatkan ketenangan. 


Tidak perlu membandingkan nasib siapa yang lebih melarat untuk memiliki rasa syukur. Setiap orang memiliki kisahnya masing-masing dan kesulitan yang bergantung pada kekuatan dirinya sendiri. Barangkali, kita jarang melihat kehebatan orang-orang yang berada di bawah demotivasi ini. Namun, siapa sangka, bahwa orang-orang inilah yang selalu memiliki keinginan untuk tetap hidup. Toh, pada akhirnya ...


We're all gonna die.


— Sufjan Stevens, Fourth of July

Selasa, 10 Agustus 2021

LOVE HOTEL

 ️️ ️

️️ 

️️ ️

    𝐋𝐎𝐕𝐄 𝐇𝐎𝐓𝐄𝐋 :

    𝘛𝘩𝘦 𝘸𝘰𝘳𝘥 𝘭𝘰𝘷𝘦 𝘪𝘯 𝘢 𝘱𝘭𝘢𝘤𝘦, 

    𝘥𝘰𝘦𝘴 𝘯𝘰𝘵 𝘮𝘦𝘢𝘯 𝘵𝘩𝘦𝘳𝘦 𝘪𝘴 𝘢 

    𝘧𝘦𝘦𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘰𝘧 𝘭𝘰𝘷𝘦 𝘪𝘯 𝘪𝘵

    ━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━ 

️️ ️

️️


ㅤㅤHari masih gelap, hawa dingin masih agak menusuk ke kulit. Pagi hari, tetapi matahari belum memancarkan sinarnya. Janari. Itu sebutan yang tepat untuk mendefinisikannya.


ㅤㅤDan di saat itulah, aku, seorang remaja berusia tujuh belas tahun, keluar dari "Love Hotel". Tidak, tidak ada "Love Hotel" di Indonesia. Ini bukan Jepang—hanya sebutannya untuk orang-orang sekitar sini, menyebutnya "Love Hotel". Lebih mirip gang kecil yang berisi para pelacur, tetapi di sini siapa pun bisa memasukinya tanpa menyewa penyedia jasa. Artinya, bawa pasangan sendiri jika ingin melakukannya.


ㅤㅤNamanya saja "Love Hotel", tetapi bentuknya semacam ... kontrakan? Kumuh, tetapi bagi yang ingin menyalurkan nafsunya, suasana kumuh ini tidak begitu dipedulikan. Siapa pun bisa memasukinya selama ingin. Aku yang masih pelajar pun bisa masuk, menikmati fasilitasnya, kemudian ...


ㅤㅤ... bercinta?


ㅤㅤKugunakan tanda tanya karena aku sendiri ragu. Jika "bercinta" yang dimaksud adalah melakukan hal seperti kecupan, ciuman, pelukan, atau bahkan lebih hingga melepas balutan pakaian tanpa adanya perasaan cinta itu, maka apa yang kulakukan bisa disebut sebagai "bercinta". Maksudku, hal-hal yang kusebutkan adalah bentuk wujud dari cinta, itu adalah salah satu cara menyampaikannya. Hanya saja, apa memang harus ada perasaan cinta di dalamnya?


ㅤㅤNamun, jika "bercinta" yang dimaksud adalah menjalani hubungan dengan perasaan cinta, maka aku tidak melakukan hal demikian.


ㅤㅤHoodie yang kukenakan tidak begitu membantu untuk menghangatkan. Kulipat kedua lengan di depan dada, berjalan dengan sedikit menunduk untuk menahan dingin. Kamar yang kumuh itu memang tidak begitu hangat, tetapi akan lebih hangat di sana karena ...


ㅤㅤ... Uhm.


ㅤㅤYah, kutinggalkan gadis itu. Gadis yang menjadi "teman" tidurku semalaman ini. Ah, sebenarnya, sudah beberapa kali. Bukan aku yang menawarkannya, tapi dia. 


ㅤㅤAku bukan orang yang akan terikat dengan hubungan. Begitu "milikku" sudah digunakan, waktunya mencari orang lain. Perempuan, tepatnya, karena aku seorang heteroseksual.


ㅤㅤAkan tetapi, kali ini berbeda. Gadis itu—yang kutinggalkan pagi ini—sudah beberapa kali melakukannya denganku. Pertemuan pertama itu berlangsung canggung, dia sama sekali belum pernah melakukannya. Itu artinya, aku adalah orang pertama baginya.


ㅤㅤDia terlihat ragu. Malu-malu, tetapi aku bisa mengetahui kalau dia mau. Ini lucu. Kalau dia belum pernah melakukannya sebelumnya, lantas kenapa memilih aku?


ㅤㅤ“Aku takut melakukannya dengan yang lebih tua. Kau ... Mungkin karena masih berusia tujuh belas, kupikir lebih ... aman?”


ㅤㅤBodoh. Kenapa sekarang dia malah sok? Apa maksudnya karena aku lebih muda, dia terkesan lebih memiliki pengalaman? Ah, dia sampai menanyakan kenapa aku tidak melakukannya dengan yang seumuran denganku saja. Mereka bukan tipeku. Lebih tua dariku, tetapi tidak begitu jauh juga, itu adalah tipeku.


ㅤㅤTipeku untuk "bercinta".


ㅤㅤBegitu dia mengatakan kalau aku ini lebih "aman", aku hanya bisa tertawa. Oh, astaga. Aku jauh lebih berpengalaman soal ini daripada dirinya yang berusia dua puluh dua. Namun, dia telah memilihku dan akan disayangkan bila aku keluar dari "Love Hotel" tanpa melakukan apapun. 


ㅤㅤMaka, kami melakukannya. Tidak ada paksaan. Jika ada, aku melakukan tindakan kriminal. Dia memang malu, tetapi pada akhirnya dia melepas busananya tanpa kuminta. Sementara, aku sudah mengatakan sebelumnya, jika masih ragu, batalkan saja.


ㅤㅤKali pertama itu, setelah melakukannya, kami sempat mengobrol beberapa lama. Dia menceritakan hidupnya, dari yang penting sampai hal-hal remeh. Aku mendengarkan, tetapi hal yang kuanggap penting saja. Ceritanya bagaikan cookies, kulahap dan remah-remah kubiarkan jatuh begitu saja. Ceritanya pernah bertemu seorang lelaki yang menyakitinya? Sesama perempuan yang menyukainya? Buang saja.


ㅤㅤSayangnya, tidak ada yang menarik dari gadis ini. Ketika dia mengatakan bahwa dia alergi terhadap kacang, aku jauh lebih penasaran kenapa orang-orang bisa alergi terhadap makanan itu, daripada mempedulikan dia yang bisa saja salah makan karena tidak memerhatikan komposisinya. Mungkin nanti, kusengaja saja menaruh bubuk kacang di makanannya.


ㅤㅤAku 'kan, mau tahu. Lagipula, aku ini si ranking satu. Perguruan Tinggi Negeri adalah impianku saat ini. Mana mau aku mengikat diriku dengan sebuah hubungan?


ㅤㅤMungkin di mata orang-orang, seorang sepertiku tidak akan mungkin melakukan hal seperti ini. Aku berkacamata, seorang anak SMA jurusan IPA, terlihat seperti kutu buku yang tidak mungkin melakukan hal-hal "nakal". Bodohnya, apa mereka lupa dengan pepatah "Jangan melihat orang dari tampangnya"? Aku adalah buktinya.


ㅤㅤRaut wajahnya sampai terbelalak tak percaya begitu mengetahui aku anak yang berprestasi di sekolah. Hah, memangnya anak yang berprestasi itu sama dengan anak yang baik? 


ㅤㅤSetelah pertemuan pertama itu, seharusnya kami tidak berhubungan lagi. Atau setidaknya, tidak terlalu sering. Dia bisa mencari orang lain, tetapi dia memaksa menemuiku. Mengatakan kalau aku membuatnya nyaman, rindu dengan suaraku, ingin mengobrol denganku ...


ㅤㅤ... Dan ingin bercinta lagi denganku.


ㅤㅤTanpa harus menyulitkan diri, kuterima lagi ajakannya. Kedua, ketiga, itu masih kuterima. Lama-lama, ia menunjukkan perasaannya. Memang dia tidak mengatakannya, tetapi aku bisa merasakannya. Bagaimana cara dia memandangku, bagaimana cara dia berbicara denganku ...


ㅤㅤPerempuan ini ... menyukaiku.


ㅤㅤAku harus meninggalkannya.


ㅤㅤAkan jauh lebih sulit kalau kami terus-terusan bertemu, kemudian dia mengharapkan balasan dari perasaannya. Aku tidak mau, serta tidak bisa.


ㅤㅤIni pertemuan terakhir kami. Diam-diam kumasukkan obat tidur di minumannya, kemudian kami "bercinta" lagi ...


ㅤㅤ... Yang tidak membuatku bergairah sama sekali. Hah, yang benar saja?! Dia saja yang diuntungkan selama ini. Aku yang berpengalaman, bisa menilai mana seks yang memberikan kenikmatan dan mana yang hanya asal-asalan. Maksudku, aku pernah mendengar golongan boomer mengatakan, "Kautidak perlu tahu soal seks! Nanti juga kaubisa sendiri!"


ㅤㅤJika mengingat hal itu, aku hanya bisa tergelak. Bisa sendiri, katanya? Hei, saat pertama kali melakukan ini, aku bahkan seperti bayi yang belajar berjalan. Tetapi karena aku sudah remaja, aku malah jadi seperti orang tolol. 


ㅤㅤSekarang hampir pukul lima pagi, masih ada beberapa jam untuk sekolah. Semoga aku tidak ketahuan Ayah kalau aku baru tiba di rumah pagi ini. Ah, Ayahku itu, selalu ingin mencampuri urusanku sementara dia sendiri sering bergonta-ganti pasangan. Aku membencinya. Dan ... Huh, aku yakin, penisnya itu sudah memasuki banyak lubang.


ㅤㅤGawaiku bergetar, ada panggilan masuk. Aku tidak peduli. Pasti gadis itu. Beberapa kali sampai aku rasanya ingin melempar gawaiku, tetapi aku tetap tidak mengangkatnya. Aku harus pulang.


ㅤㅤBegitu sampai di depan rumah, aku mengecek gawaiku. Panggilan masuk sudah berhenti, tetapi pesan yang masuk banyak sekali.


ㅤㅤ“Kenapa kaupergi?”


ㅤㅤ“Tolong jelaskan, apa aku berbuat salah?”


ㅤㅤLantas aku memainkan gawaiku, mengetik pesan sebelum akhirnya memblokir semua kontaknya.


ㅤㅤ“Maaf, tolong jangan menyukaiku. Aku harus pergi, sebelum perasaanmu semakin dalam. Carilah lelaki lain, jangan aku.”


ㅤㅤDan begitulah ceritanya, yang menjadi akhir dari kisah kami. Mungkin, ia harus memahami. Aku yang berusia lebih muda daripadanya, bukan berarti aku lebih memiliki pemikiran yang "suci". Aku yang merupakan peringkat satu, bukan berarti aku tidak memiliki pemikiran untuk hal-hal semacam ini. Aku yang membenci Ayahku karena dia bergonta-ganti pasangan, bukan berarti aku tidak akan melakukan hal yang mirip dengannya. Serta, "Love Hotel" yang menjadi tempat untuk "bercinta", bukan berarti selalu ada perasaan cinta di dalamnya.


━━━━━━━━━━  END.

Jumat, 30 April 2021

CERME (Cerita dari Meme) : Menuju Indonesia 4.0

Suatu hari di sebuah negara, petinggi-petinggi di sana sedang sibuk membicarakan sebuah
proyek besar. Proyek ini menyangkut kehidupan rakyat negaranya dalam jangka waktu lama.
Kertas yang ada di atas meja itu terlihat bertuliskan Menuju Indonesia 4.0.

Peserta rapat di sana terlihat menjaga jarak, mengenakan masker, serta sudah mencuci tangan. Katanya, sih, enggak percaya sama virus yang sedang merajalela, tapi protokol kesehatan tetap dilakukan biar dapat izin aja.

Ups

“Kita akan membangun sebuah sillicon valley!” seru salah satu petinggi rapat. Peserta rapat yang lain mengangguk, menyambut baik ide tersebut. Namun, salah satu peserta garuk-garuk kepala.

Sillicon valley tuh apa, Pak?”

Ndeso!” Merasa paling gaul, bapak petinggi rapat searching google untuk menjelaskan. Akan tetapi, loading-nya malah lama sekali!

“Coba restart dulu, Pak..”


Kerjaan admin Indihome setap saat


“Aduh, pokoknya gini, deh! Makanan yang ada di sana akan dibantu oleh teknologi!” seru bapak petinggi, tidak mau menjelaskan lagi.

Tjakep!” tanggap peserta rapat. Peserta yang tidak tahu sillicon valley pun manggut-manggut.


Sangat canggih bukan?


“Kemudian lalu lintas akan dibantu oleh robot!”

Mantul!


Robot ini maksudnya


“Warga bisa 3D print!

Beeeeuh!

Peserta rapat makin bersemangat, tak lupa mengacungkan dua jempol sebagai apresiasi. Di benak mereka, terlintas hal-hal apa saja yang akan mereka lakukan jika tinggal di tempat yang penuh dengan teknologi.



Bayangin aja dulu


“Ada fotokopi!”

….Hening.

“Fotokopi buat apa, Pak?”

“Lah, buat fotokopi KTP, akta kelahiran, KK, SIM, dan lain-lain di data Dukcapil lah!”



Siapa tahu masih pakai fotokopian


Di tengah rapat, pintu tiba-tiba terbuka. Terlihat sosok mengerikan, gelap, membanting pintu dengan kasar. Lantas berkata…

Ngok!

Rupanya itu seekor babi.

Ngok! Sok sok mau bikin sillicon valley, ngok! Kami enggak salah apa-apa, malah ada keluarga kami yang ditangkap karena dituduh ngambil duit warga, ngok! Iri dengki pula kalau ada yang punya duit banyak, tapi malah kami yang dituduh!”


Kasihan babi


Salah satu babi lain menambahkan, “Tau tuh, ngok! Padahal dia sendiri yang lupa kalau duitnya dipinjemin ke temennya dan enggak dibalikin!”



Awas lupa bayar utang


Urusan dengan para babi belum selesai, datang satu pasukan bola hijau bergelinding memasuki ruangan. Ketua mereka, dengan ukuran yang lebih besar menancapkan sebuah bendera di tubuhnya sendiri, bendera itu bertuliskan Persatuan Klepon Indonesia.

“Kami juga dituduh! Bisa-bisanya kami dituduh makanan yang tidak islami! Padahal kami biasa menemani para warga di saat saat lebaran! Mau masuk era 4.0 gimane kalau persatuan aje belum dijaga!”

Seruan tetua klepon itu disambut meriah oleh para Rapon, alias rakyat klepon. Lalu klepon yang berukuran sedikit lebih kecil pun menggelinding di samping tetua klepon, sepertinya itu adalah istrinya.

“Padahal tuh ya, yang haram tuh si bakso beranak! Bapaknya aje kagak ada!” Malah julid.


Mungkin bapaknya yang suka pakai walkie talkie


Ruang rapat menjadi gaduh, banyak yang memprotes proyek 4.0 ini karena dirasa belum siap untuk beradaptasi dengan teknologi yang ada. Ruang rapat makin gaduh, saling beradu argumen.

Ada yang masih mendukung pembangunan sillicon valley tersebut, ada yang mulai menolak.
Salah seorang warga desa pun berteriak menggunakan toa, membuat kaget semua orang.

SEBELUM MENUJU 4.0, MENDING BIKIN TOILET DULU! MASIH BANYAK YANG BAB SEMBARANGAN, TAU!”


Data tahun 2020 menyebutkan bahwa di Indonesia
terdapat 32,24 juta jiwa masih Buang Air Besar sembarangan

END

Catatan dari penulis :
Kisah ini hanya fiksi semata, tetapi kasus-kasus di dalamnya adalah nyata. Penulis bermaksud menyampaikan masalah-masalah yang ada di Indonesia dari keluh-kesah netizen melalui tweet dan juga meme. Dibuat untuk tugas, tetapi di-post di sini juga! Hehe.

Rabu, 03 Juni 2020

A UNTUK AMANDA: KETIKA MERASA TIDAK PUAS DENGAN DIRI SENDIRI




Semenjak adanya iPusnas, gue yang suka baca buku tapi terhalang dengan uang, bener-bener merasa terbantu dengan hadirnya aplikasi resmi ini. Apalagi, buku-bukunya legal. Tapi ya, harus tahan aja baca lewat ponsel. 

Dan baru beberapa hari lalu gue membaca buku yang berjudul "A untuk Amanda", novel karya Annisa Ihsani ini menceritakan tentang Amanda yang merupakan anak pintar di sekolah, selalu mendapatkan nilai A, seorang agnostik, tertarik dengan sains, dan punya sahabat bernama Tommy (yang nantinya akan menjadi pacar Amanda di sini). 

As always, kalau kalian pernah baca novel Annisa Ihsani yang lain, pasti enggak asing lagi kalau dia selalu menyertakan sains di ceritanya. Gue pun baru tahu kalau Teori Bigbang yang selama ini kita kenal dengan ledakan, rupanya bukan ledakan. 

Nah, kembali ke cerita. Di awal cerita, gue udah gemas sendiri sama interaksi Tommy dan Amanda. Jadi mereka ini punya kesepakatan setiap awal bulan buat duduk bareng di kantin. Lucu kan? Kemudian, kita bakal ketemu tokoh-tokoh lainnya yang merupakan teman-teman Amanda. 

Konflik Amanda sendiri dimulai waktu dia ingin menjawab pertanyaan guru, namun gurunya ingin memberikan kesempatan bagi anak lain untuk menjawab. Ternyata, jawaban Amanda ini salah. Untungnya ia tidak menjawab. Di sinilah ia merasa kalau dirinya adalah seorang penipu, ia mendapat nilai A karena keberuntungan. Lalu, ada juga saat Amanda mengumpulkan esai, ia mendapat nilai A. Tapi dirinya merasa itu seharusnya mendapat B. 

Dari sini, gue bisa relate sama Amanda yang khawatir akan masa depannya. Dia takut setelah lulus enggak dapat pekerjaan yang layak. Mengingat dia hanya tinggal bersama ibu, karena ayahnya sudah meninggal. 

Untuk novel yang membahas mental illness, permasalahan Amanda sendiri gue rasa enggak terlalu berat. I mean, dia enggak dibully, hubungannya dengan sang ibu juga cukup dekat, nilainya juga bagus. Tapi di sinilah, gue rasa Annisa Ihsani ingin menyampaikan bahwa orang yang enggak mengalami permasalahan tersebut pun bisa mengalami depresi. Kondisi Amanda yang merasa dirinya enggak pantas, disebut sindrom penipu. Umumnya dialami oleh orang-orang yang merasakan keberhasilan. Ketika itu, mereka bakal merasa kalau yang mereka capai itu adalah kebohongan, mereka merasa enggak cukup. 

Dan ya, tentu ada sindiran di mana orang yang mengalami depresi pasti akan disarankan untuk dekat pada Tuhan. Amanda yang agnostik, tentu sulit untuk melakukannya. Agnostik sendiri berbeda dengan ateis, ya. Kalau agnostik, mereka masih yakin dengan adanya Tuhan atau adanya sesuatu di alam semesta yang tidak diketahui keberadaannya. Hanya saja, mereka ragu dengan agama. Bukan hanya itu, banyak juga yang menyepelekan kalau depresi bisa diatasi dengan liburan. 

Ada kata-kata yang gue sukai di sini dari Helena, sewaktu Amanda menceritakan kalau Tommy mengatakan bahwa depresi hanya di pikirannya. Helena mengatakan, "Tentu saja depresi itu ada di kepala, memang mau di mana? Di paru-paru?" 

Rupanya, Helena adalah teman yang baik. Hanya di sini ia diremehkan karena sering berdandan dan berpacaran. Padahal pada akhirnya, dia yang paling peduli dan mengerti Amanda. Duh, respect buat Helena! *acungin jempol* 





Itu salah satu part lagi yang gue suka, seakan sindiran bahwa manusia cuma seonggok kecilnya alam semesta. Jadi, gelar semacam itu bukan hal penting. 

Rate untuk novel ini.. 7.5/10. Buku dengan 200-an halaman ini cukup mudah dimengerti. Diksi yang digunakan layaknya novel terjemahan. Sayangnya yang membuat gue bingung ini latarnya seperti di luar negeri, tapi nama-namanya seperti di Indonesia. 

But well, buku ini tetap bagus untuk dibaca. Selain menambah ilmu tentang sains, kalian juga bisa memahami orang lain. Dan tentu untuk jangan memikirkan apa yang orang lain pikirkan. Maksudnya untuk beberapa hal, orang lain enggak akan sepeduli itu. Lo mau gap year, kuliah dekat rumah, ya paling orang lain cuma ber-oh-ria. Tamparan keras buat Amanda (dan juga gue, hehehe). 

Kamis, 03 Oktober 2019

PETUGAS KEBERSIHAN MAKAN GAJI BUTA?



HALOOOO! 

Jadi gue pernah ikut lomba artikel kebersihan dari gajahlahkebersihan.id, nah alhamdulillah sempat menang sebagai kontributor. Gue ingin membagikan artikel yang gue buat, dan yang gue bicarakan adalah tentang Petugas Kebersihan yang seringkali dianggap remeh pekerjaannya sama kebanyakan.. (ekhem) warga +62 ini. 

Selamat membaca! Tapi kalau kurang bagus, maafkan yaa. 






Begitulah komentar-komentar di media sosial mengenai petugas kebersihan. Banyak yang menganggap mereka memakan gaji buta jika kita membantu mereka membersihkan sampah. Namun, benarkah demikian?

Tugas utama petugas kebersihan tentunya memang membersihkan tempat-tempat agar bebas dari sampah supaya bersih dan nyaman. Di sebuah wawancara mengenai petugas kebersihan yang saya tonton di NET TV, petugas tidak hanya membersihkan sampah sisa-sisa masyarakat, tetapi juga sampah yang bukan sisa. Misalnya, daun-daun kering pepohonan yang berguguran, tentu itu dibersihkan oleh petugas.

Bukan hanya membersihkan, tetapi juga mereka membersihkan gorong-gorong dan juga mengolah sampah tersebut.  Itulah kenapa tempat sampah haruslah dibedakan sesuai jenisnya, mengingat para petugas juga harus membedakan sampah-sampah tersebut. Contohnya, jika sampah plastik bisa dibawa ke tempat daur ulang sedangkan sampah sisa-sisa makanan bisa diolah menjadi pupuk.

Lalu, bagaimana jika kita membantu mereka membuang sampah? Apa benar mereka makan gaji buta?

Diibaratkan begini, saya seorang pelajar yang sedang mengerjakan tugas. Tugas itu tentulah menjadi tanggung jawab saya untuk dikerjakan. Namun, kakak saya membantu saya mengerjakan soal yang tidak saya mengerti. Saya mendapat nilai bagus dengan bantuan kakak saya, tetapi tentu saja saya juga tetap pantas untuk mendapat nilai bagus. Kakak saya membantu saya mengerjakan, bukan dia yang mengerjakan semua soal tersebut.
Petugas kebersihan memang memiliki tanggung jawab menjaga lingkungan tetap bersih, tetapi sampah yang dikeluarkan oleh diri kita sendiri tetap saja menjadi tanggung jawab diri sendiri.




Dengan membersihkan sampah yang berada di sekitar kita, bukan berarti petugas kebersihan memakan gaji buta. Berdasarkan wawancara dari acara Indonesia Morning Show di NET TV tahun 2014 lalu, petugas kebersihan bahkan sudah tiga bulan belum mendapatkan gaji. Tetapi mereka tetap melakukan tugas mereka, belum lagi sampah yang menumpuk di ibukota dalam sehari saja bisa mencapai berat dalam satuan ton. 





Bagaimana jika petugas kebersihan yang ada di dalam ruangan seperti bioskop atau kendaraan seperti kereta? Jika kita menjaga kebersihan, lalu apa tugas mereka?






Tugas petugas kebersihan di dalam ruangan juga sama, menjaga kebersihan. Akan tetapi, mereka tidak hanya membersihkan sampah saja. Mereka juga harus memastikan ruangan bersih dan nyaman. Contohnya saja jika ada debu atau noda, petugas yang membersihkannya. Hal yang berbeda jika mereka hanya membuang bungkus makanan yang ada di kursi, belum tentu tidak ada debu.
Contohnya lagi, jika kita tidak sengaja menumpahkan minuman di kereta, petugas kebersihan akan bekerja untuk mengepel lantai. Sampah minuman tetap saja kita sendiri yang membuangnya ke tempat sampah, itulah kenapa disediakan tempat sampah. Sampah-sampah itupun tidak akan hanya dibiarkan terus menerus di sana, tetapi juga dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Kebersihan adalah tanggung jawab bersama, petugas kebersihan membantu kita agar lingkungan yang kita tempati tetap nyaman. Bukan berarti jika kita menjaga kebersihan, mereka jadi tidak punya pekerjaan, karena seperti yang saya sebutkan di atas, tugas mereka tidak hanya membuang sampah.

Senin, 30 September 2019

TZUCHING POWER: MASIH BANYAK ORANG BAIK!

PENGALAMAN IKUT TZUCHING CAMP TAHUN INI!


Di tanggal 28-29 September kemarin, gue berkesempatan mengikuti Tzuching Camp di Tzuchi Jakarta, terletak di kawasan PIK. Bagi kalian yang belum tau apa itu Tzuching, gue jelasin sedikit dulu. Kalau di daerah kalian ada Yayasan Buddha Tzuchi, nah anak muda yang masih berkuliah S1 dan menggunakan seragam biru putih, itu adalah Tzuching. Di Tzuchi, kita bisa belajar banyak hal; seperti isyarat tangan, pelestarian lingkungan, menjadi panitia acara, dan masih banyak lagi. 

Hari pertama Tzuching Camp yang bertemakan Tzuching Power ini, masih diisikan dengan game dan pembicaraan. Gue seneng banget bisa kenalan sama anak-anak universitas lain; ada UPH, BINUS, Atma Jaya, dan lainnya yang gue juga lupa. Hahaha. XD Kami juga membuat mind maping untuk sosialisasi lingkungan di hari berikutnya. 



Hari kedua, barulah kita turun ke jalan untuk menjalankan misi. 


Jadi yang pertama dilakuin, kami berangkat pagi-pagi untuk jual sedotan. Berhubung kita dapet tempat untuk bebas ke mana aja, kami pergi ke kawasan PIK di mana orang-orang lagi olahraga cantik. Sebenarnya, gue sempat pesimis, mana ada orang yang mau beli stainless straw, kalaupun ada yang beli, paling enggak akan kasih lebih. Ternyata, gue salah besar banget. Dari harga sedotan yang 20 ribu itu, yang pertama kita tawarin kasih uang 100 ribu. 

Gila, gue sendiri panik, ada uang kembalian enggak ya? Tapi ternyata dia kasih semua dan hanya ambil satu sedotan. Wow, gue jadi kagum sendiri. Lanjutnya, ternyata masih banyak orang yang membeli stainless straw, ada juga yang enggak beli tapi ikut menyumbangkan. Wah, negative thinking gue terpatahkan. Dari 10 sedotan yang harga satunya 20 ribu, kami berhasil mengumpulkan dana sekitar 800 ribu! Nah, keuntungannya akan disumbangkan untuk membantu Palu. Ingat kan, Palu saat itu terkena gempa? 



Anyway, Jakarta di jam 7 pagi aja panas banget. Tapi panasnya itu udaranya, bukan dari sinar matahari. Langitnya enggak cerah sama sekali, bikin gue makin prihatin sama Jakarta sekarang. Apalagi gue termasuk orang yang kalau udah panas, bawaannya marah-marah terus. Satu jam di sana udah pengen balik aja gue. :( 

Setelah menjual stainless straw sambil bersosialisasi mengenai lingkungan, kami lanjut ke toko kelontong. Penjaga tokonya menyambut ramah saat kami bilang akan mewawancarai mereka, tidak lupa mereka juga memberikan sumbangan untuk Palu. Kami juga membeli beras, teh, sabun, dan... satu lagi lupa maaf gengs :(, untuk diberikan kepada pekerja jalanan. 

Kami menemui satu orang petugas kebersihan dan satu orang satpam. Gue mewawancarai Bapak Sanusi, seorang petugas kebersihan. Bapak Sanusi menyambut dengan ramah, ia sendiri sudah berumur 74 tahun namun masih aktif bekerja. Kagum! Tapi dengan jujur ia bilang duka bekerjanya banyak (sambil tertawa) dan bayarannya hanya 50 ribu per hari. Duh :')

Akhirnya kami memberikan beras, teh, dan sabun itu kepada mereka. Mereka kelihatan senang banget, apalagi beras kan mahal ya. Tak lupa kita foto juga! 




Seneng banget bisa membuat orang lain bahagia! Kami kembali ke Jing Si dan beristirahat, lalu makan siang. Pssst! Di Tzuchi. makanannya enak-enak lho! Tapi jangan berharap ada daging ya di sini! Hahaha. 

Setelahnya, kami dan kelompok lain mempresentasikan hasil misi. Dengar cerita kelompok lain, ternyata mereka pun beruntung. Bahkan, ada yang ditraktir makan segala! Haha, keren banget! Masih banyak orang baik dan peduli dengan bumi! 



Selama gue tinggal di Bandung, gue takut banget untuk tinggal di Jakarta. Mungkin, bagi kalian yang pernah baca utasnya kaskus soal 'Saya Takut Hidup di Jakarta' menjadi hal yang mengerikan bagi yang ingin merantau ke sana. Beruntungnya, gue ketemu orang-orang baik, dan saat gue turun ke jalan pun gue masih menemui orang-orang baik. 

Gue menemui berbagai macam orang dengan berbagai karakter, gue juga belajar untuk lebih peduli dengan orang lain, belajar untuk enggak mudah berpikiran negatif sebelum mencoba. Rasanya, gue pengen cepet-cepet camp lagi deh, hahaha. 

Di tahun depan, Tzuching Camp harus 500 orang pokoknya! 

Rabu, 11 September 2019

PENGALAMAN DONOR DARAH!

Di tanggal 7 September 2019 lalu, ada acara donor darah di Yayasan Buddha Tzuchi Bandung. Aku sendiri sudah hampir setahun menjadi anggota, dan mendaftar jadi relawan di sana.


Tugasnya sih sederhana, aku jaga di bagian pendaftaran dan ngarahin pendonor buat isi formulir. Dikarenakan ini pertama kalinya aku ikut donor darah, agak gimana gitu sama pertanyaan di formulirnya. XD



Pernah berhubungan dengan pekerja seks komersial?
Pernah berhubungan dengan lelaki biseksual?
(mungkin karena aku masih muda, jadi masih awam dengan pertanyaan begitu)
Pernah di penjara dalam waktu lebih dari 72 jam? (yang ini aku kurang mengerti kenapa ditanyain dan apa hubungannya dengan darah)

Lalu ada juga..
Dari tahun 1980 sampai 1996, tinggal selama 3 bulan atau lebih di Inggris? Menerima transfuse darah dari Inggris?

Setelah aku menjelajahi mbah google, ternyata orang-orang Inggris di tahun tersebut memakan daging Bovine Spongiform Encephalopaty, alias sapi gila. Ribuan orang juga diduga terinfeksi virus Hepatitis C dan HIV melalui produk yang tercemar. Jadi, orang yang melakukan transfusi darah harus menjalani tes Hepatitis C terlebih dahulu.

Ada juga pertanyaan, apakah Anda tinggal di Afrika? Apakah Anda pernah berhubungan seks dengan orang Afrika?
Dilansir dari beberapa sumber, ternyata kota Kinsasha yang terletak di Republik Demokratik Kongo, penyebaran HIV bermula di sana tahun 1920. Saat itu, prostitusi sangat berkembang dan hal tersebut dianggap sebagai penyebarannya.

Oh iya, sebelum donor darah, kalian harus istirahat yang cukup dan pastikan kalian sehat ya. Karena kalau sakit, langsung ditolak sama dokternya. Aku sendiri memiliki berat badan 45 kg, sedangkan syarat untuk mendonorkan darah, berat badan minimal harus 47 kg. Jadi... aku tertolak, hiks.

Setelah donor darah, kalian istirahat dulu atau makan. Jangan langsung mengendarai kendaraan ya, karena setelah donor, badan kalian akan lemas dan kepala juga pusing. Hati-hati ya!

Kalau berat badanku sudah cukup, nanti aku ikut donor, deh. Semoga kalian termotivasi ya! Waktu aku jaga di bagian pendaftaran, banyak banget pendonor yang sudah lebih dari sepuluh kali melakukan donor darah. Kagum deh!

Sabtu, 07 September 2019

MEGUMI? About Me!

KENALAN DULU YUUUK! 


Halo semuanya! Perkenalkan, nama aku Megumi~ seorang mahasiswi baru (saat menulis ini) jurusan Hubungan Internasional di sebuah universitas swasta Bandung. Sebenarnya, Megumi bukanlah nama asli, melainkan nama Jepang yang dibuat diri sendiri XD 

Alasanku membuat blog adalah.. karena aku berpikir aku harus memulai membuat jurnalku sendiri. Banyak banget hal yang bisa aku tuangkan menjadi tulisan. Tapi emang mager aja sih akunya, hoho. Kali ini harus diniatkan deh, semoga enggak macet-macet ya, doakan!

Kenapa nama blognya banananuggetisme? Soalnya aku suka banget sama banana nugget! Semoga orang yang punya ide bikin makanan ini dapat tempat terindah di sisi-Nya. Amen! 

Ohiya, aku tertarik dengan sejarah, sastra, fakta menarik, dan pengetahuan umum. Aku ini orangnya penasaran banget sama sesuatu yang mungkin aja orang enggak pernah mikirin! Misalnya, kenapa ya manusia harus tinggal di tempat bersih supaya terhindar dari kuman dan penyakit, sedangkan hewan yang tidur di tempat-tempat berdebu malah sehat? Kenapa ya kereta api harus lama banget kalau lewat, eh pas lewat malah kepalanya doang? Yah, walau belum nemu jawabannya. Tapi semoga dengan adanya blog ini, keinginanku buat explore lebih jauh jadi terlaksanakan, ya! 

Sekalian mau cerita nih. Dulu, aku orangnya malas banget untuk berteman dengan orang lain. Rasanya minder duluan kalau dia lebih cantik atau pintar dari aku, tapi malas juga berteman dengan orang begitu karena biasanya pilih-pilih. Sama cowok apalagi, idih! Kerjaannya bikin kesal aja. 

Tapi lama kelamaan, aku mulai iri dengan kehidupan teman-temanku. Memang ya, fitur Instastory di Instagram itu buat iri dengki aja. Tapi kalaupun bukan karena itu, aku enggak bakal ada keinginan cari teman dan relasi sebanyak-banyaknya! Di umur 18 tahun, aku menyadari itu sangat penting untuk kita ke depannya. 

Namun aku sarankan untuk kalian, kalau ada orang yang buat kalian enggak nyaman, jadikan dia sebatas kenalan aja. Benci boleh, tapi batasi jarak aja. Daripada cari masalah, kan? Akupun kalau enggak suka sama orang, ya udah, batasi jarak aja. Aku enggak perlu menunjukkan sikap kalau aku benci sama dia. Enggak harus selalu seperti itu.

Nah, sudah ya memperkenalkan dirinya!

Tulisan selanjutnya akan aku post! Tentang kegiatanku bersama komunitasku!

Enjoy! 

TRIGGER WARNING: Welcome to my office!

  ㅤㅤㅤ ㅤㅤㅤSelamat datang di kantorku! Ayo masuk! ㅤㅤㅤAh, tidak terlihat seperti kantor, ya? Memang, kubuat suasana senyaman mungkin supaya kli...