Minggu, 24 April 2022

TRIGGER WARNING: Welcome to my office!

 


ㅤㅤㅤ

ㅤㅤㅤSelamat datang di kantorku! Ayo masuk!


ㅤㅤㅤAh, tidak terlihat seperti kantor, ya? Memang, kubuat suasana senyaman mungkin supaya klien-ku bisa bersantai dengan nyaman. ㅤㅤㅤ

ㅤㅤㅤHahaha, ya.. kau bisa menyebutku demikian, tapi aku tetap manusia.


ㅤㅤㅤNah, ini secangkir teh untukmu karena ini kesempatanmu untuk mewawancaraiku. Silakan duduk! Sofanya empuk bukan? Baru kubeli minggu lalu.


ㅤㅤㅤJadi, apa yang ingin kau ketahui tentangku?ㅤ

ㅤㅤㅤ

ㅤㅤㅤUhm.. ya, aku pemilik situs itu. Aku membantu mereka yang sedang dalam kesulitan, biasanya mereka menghubungi aku paling lambat seminggu sebelum datang.



ㅤㅤㅤAwal berpikir untuk melakukan ini, aku merasa kasihan. Mereka ingin, tapi tidak bisa. Jadi kuputuskan untuk menolong mereka. Mengulurkan tanganku, dan membantu sebisaku.



ㅤㅤㅤDalam satu bulan pertama... sekitar enam orang. Tapi lama kelamaan, semakin bertambah. Bahkan pernah sampai lima belas orang dalam sebulan! Bayangkan itu.



ㅤㅤㅤIya, jadi karena itulah aku membatasi klien-ku dalam sebulan hanya lima orang saja. Ada yang sampai masuk waiting list untuk bulan depan.



ㅤㅤㅤAku mempromosikan lewat internet. Bukan woogle, tentunya. Agak sulit untuk orang awam terutama yang tidak paham internet, tapi sejauh ini peminatnya juga banyak. Jadi bukan masalah.



ㅤㅤㅤTestimoni, sayangnya tidak ada. Hahaha, tapi aku yakin aku memuaskan klien-ku. Apa kau berminat?



ㅤㅤㅤOh, tidak apa. Memang lebih baik tidak, karena aku hanya membantu orang-orang yang memang ingin. Kebanyakan wanita, tapi ada pria juga.


ㅤㅤㅤAku?




ㅤㅤㅤAwalnya aku ingin melakukannya juga, tapi begitu aku menemukan ide ini, rasanya lebih baik begini.



ㅤㅤㅤProsedurnya mudah, kau tinggal mengisi formulir yang ada di situs tersebut. Lalu, aku akan menghubungimu lewat e-mail untuk menanyakan konfirmasi. Selanjutnya, aku akan mengirim pesan mengenai waktu untuk datang. Kau tinggal datang.



ㅤㅤㅤUhm, biasanya aku mengikuti jadwal klien-ku. Aku memberikan mereka kebebasan.



ㅤㅤㅤSaat mereka datang, aku akan membuat mereka bersantai dulu. Menyajikan makanan favorit mereka. Ah iya, aku lupa bilang. Aku juga akan menanyakan mengenai hal-hal kesukaan mereka, lalu aku menyediakannya.



ㅤㅤㅤKebanyakannya.. mereka ingin makanan. Ada yang meminta sushi buatan seorang ibu. Agak sulit, tapi akhirnya aku mendapatkannya juga.



ㅤㅤㅤSelain makanan? Uh.. pernah suatu kali ada yang ingin bermain catur, jadi kutemani dia. Katanya, dia ingin menang sekali saja.



ㅤ ㅤIya, dia menang melawanku. Itu membuatnya senang, tapi tetap tidak mengubah keputusannya.



ㅤㅤㅤLalu kuberi klien-ku opsi, biasanya orang-orang akan memilih opsi B karena itu paling mudah. Tapi aku tidak menyarankannya karena itu menyiksa.



ㅤㅤㅤJadi kusarankan opsi A atau C. Itu kalau dia memang mau sendiri, kalau perlu bantuanku, opsinya berbeda lagi.



ㅤㅤㅤKalau perlu bantuanku, biasanya mereka memilih opsi D. Itu tidak menyulitkanku, jadi aku mengiyakan langsung saja.



ㅤㅤㅤSetelah mereka memilih, mereka membayar dan menanda tangan. Voila, selesai! Aku tinggal melakukan pekerjaanku. Tidak sampai satu jam.



ㅤㅤㅤKamera yang kugunakan juga mahal. Hei, aku mendokumentasikannya sebaik mungkin. Lihat ini, ini, dan ini!



ㅤㅤㅤNah, bagus kan? Tentu, aku pernah mengikuti klub fotografi sewaktu sekolah. Gambarnya, kukirim ke keluarga atau kekasih mereka. Biasanya mereka histeris, ada juga yang senang. Aku tahu itu jahat, tapi begitulah kenyataannya.


ㅤㅤㅤSebagai bukti lain, aku juga menyediakan rekaman, apa yang klien-ku katakan.



ㅤㅤㅤAncaman polisi? Ada. Tapi mereka mau apa? Kan sebelum itu, ada perjanjian yang harus ditandatangani. Jadi aku tidak bersalah.



ㅤㅤㅤKasihan? Bukankah lebih kasihan kalau membiarkan mereka tetap hidup seperti itu? Maksudku, siapa yang mau hidup saat segalanya sudah hancur? Kutekankan lagi, aku membantu mereka.



ㅤㅤㅤUh, kau agamis ya. Maaf, tapi aku biasanya meyakinkan klien-ku bahwa tidak ada yang namanya surga ataupun neraka. Itu dongeng orang zaman dulu supaya orang-orang tidak bertindak bodoh.



ㅤㅤㅤYa, jadi jika ada orang yang masih ragu, kubiarkan dia menonton video bahwa.. tidak ada yang namanya Tuhan. Sains tidak meyakini itu.



ㅤㅤㅤYang masih tidak yakin? Ada. Tapi tetap saja mereka tidak mengubah keputusan untuk melakukannya. Jadi, aku tetap melakukan pekerjaanku.



ㅤㅤㅤBiasanya keluarga meminta untuk dikremasi saja olehku, tentu ada biaya tambahan. Ada juga yang mengusirku, mengatakan itu bukan urusan mereka. Jadi langsung aku kubur di halaman belakang. Dengan layak, tentunya.



ㅤㅤㅤTentu saja, aku juga manusia. Aku masih punya nurani.



ㅤㅤㅤHantu? Aku belum pernah melihatnya.. Kalaupun ada, tentu mereka berterima kasih padaku. Aku yakin begitu.



ㅤㅤㅤEh, kau dari tadi belum meminum teh buatanku! Ayo minum!



ㅤㅤㅤEnak? Iya, itu biasanya untuk klien-ku kalau mereka tidak meminta makanan. Kan sudah kubilang, aku memberikan pelayanan terbaik.



ㅤㅤㅤIni aneh jika orang mengharapkan bisnisku lancar, tapi aku sendiri berharap tidak. Aku juga ingin pekerjaan layak. Dan orang-orang juga hidup sebagaimana mestinya.



ㅤㅤㅤYa, terima kasih! Oh ngomong-ngomong, bayarannya promosikan situsku di majalahmu ya?



ㅤㅤㅤAku tidak tahu kata-kata yang cocok, intinya.. tulis saja, kalau kau mau mengakhiri kesedihanmu, bisa hubungi aku.


ㅤ ㅤ

ㅤㅤㅤ

Kamis, 17 Maret 2022

Cerita Kurir Pengantar Paket

 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐊𝐮𝐫𝐢𝐫 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫 𝐏𝐚𝐤𝐞𝐭

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━


ㅤㅤ“Keira, punya cerita menarik?” Di sela waktu makan siang, aku menyempatkan diri untuk mengerjakan tugas sastraku. Sudah pasti aku akan diomeli terlebih dahulu karena mengerjakan PR di meja makan. Sementara tangan kanan menulis, tangan kiri memegang sumpit. Yah, aku tidak bisa menulis menggunakan tangan kiri.


ㅤㅤ“Kehidupanku penuh olehmu,” dengusnya kesal. Benar, 'kan? Kemudian ia akan melanjutkan, “Dan tolong, kita bukan orang Barat yang memanggil dengan nama saja pada yang lebih tua! Kau harus sopan padaku!”


ㅤㅤKalau Kenta adalah nyamuk, omelan Keira adalah semprotan pembasminya. Masalahnya, Kenta sudah kebal. Jadi omelan itu tidak pernah dipedulikan, layaknya kata-kata yang masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Tanpa memedulikan omelan itu, Kenta hanya akan melanjutkan topik awalnya.


ㅤㅤ“Ah, aku benci tugas menulis. Maksudku—menulis cerita menarik?! Seperti anak SD saja. Memang apa cerita menarik dari anak umur 17 tahun di era digital ini? Kebanyakan sudah mengalami quarter life crisis lebih cepat,” ocehanku memenuhi ruangan. Atau mungkin satu rumah. Toh, hanya kami berdua di rumah jika tidak ada Ayah.


ㅤㅤ“Kau meminta saranku? Baiklah, apa yang kau lakukan di hari Jumat?”


ㅤㅤ“Dua hari lalu ... Aku melempar batu ke kolam milik Pak Shinohara.”


ㅤㅤKeira merengut. “Untuk apa?”


ㅤㅤ“Menghitung kecepatan batu tenggelam di kolam berdasarkan tingkat kedalaman air.”


ㅤㅤ“Uhm—oke. Lalu, bagaimana dengan kemarin? Hari Sabtu.”


ㅤㅤ“Aku mengambil batu-batu yang kulemparkan di kolamnya pada hari Jumat.”


ㅤㅤMendengus. “Sudahlah, hidupmu memang tidak menarik.”


ㅤㅤLupakan saja, Keira sama sekali tidak membantu. Menyebalkan sekali. Aku belum menuliskan sepatah kata pun, entah mau menulis apa. Oh, ayolah, aku lebih memilih mengerjakan seribu soal matematika daripada menulis satu cerita. Ini membuatku gila!


ㅤㅤGawaiku bergetar. Kutaruh sumpit dan menyalakan gawaiku, semoga saja ini tidak berhubungan dengan pa—


ㅤㅤ“Paket sialan.”


ㅤㅤRasanya masih dendam dengan kejadian minggu lalu. Aku tidak semangat bekerja, tapi masih membutuhkan uang. Setidaknya, gajinya cukup besar. Yah, walau harus siap di segala waktu karena pengiriman bersifat mendadak.


ㅤㅤKeira memandang aneh. “Kenapa? Pengirimanmu?”


ㅤㅤAh, ya. Dia baru saja mengetahui soal pekerjaan paruh waktuku minggu lalu SETELAH aku mengomel habis-habisan sepulang dari Osaka. Kuanggukkan kepala sebagai tanggapan. “Benar, di jam makan siang lagi.”


ㅤㅤApa mereka tidak bisa memberikan tugas di luar jam makan?! Menyebalkan. Dengan cepat, kuhabiskan makanku, layaknya orang dewasa yang bekerja kantoran. Mereka sampai harus makan berdiri untuk menghemat waktu. Hidup macam apa yang seperti itu? Memiliki banyak uang tetapi tidak bisa menikmati hasil jerih payahnya dengan baik. Konyol.


ㅤㅤKurang dari satu jam, aku sampai di Shabu-Shabu Course. Barang yang harus kuambil berada di tempat ini. Tidak perlu berlama-lama, aku tinggal mengambil paket, kirimkan, selesai. Begitu, 'kan?


ㅤㅤ“Ya, begitu. Kali ini hati-hati, pengirimanmu kali ini adalah makanan. Cupcake,” kata pria yang mengaku sebagai koki. Mungkin ia sudah tahu kalau aku memang ditugaskan untuk mengantarkan berbagai macam barang.


ㅤㅤ“Oh, ada yang ulang tahun?” tanyaku. Bukan penasaran, berbasa-basi saja.


ㅤㅤ“Tidak. Orang yang menerimanya terkena kanker otak, jadi cupcake-nya berbentuk ...”


ㅤㅤIa menjeda, kemudian membuka kotak itu. “OTAK MANUSIA!”


ㅤㅤSIALAN. Tidak—aku tidak takut pada bentuk cupcake-nya, melainkan karena “niat” yang dilakukan. Orang penderita kanker otak diberi cupcake berbentuk otak? Oke, jika ia memakannya—seperti menggambarkan kankernya menggerogoti otaknya. Ide gila, tapi menarik. Apa pemesannya sejenis psikopat?


ㅤㅤ“Kau mau coba?” Koki itu menawari satu cupcake yang tidak berada di kotak, lantas tertawa. Mungkin ia mengira kalau aku akan bergidik ngeri. Tidak, aku dengan senang hati menerimanya dan memakannya. Sial, rasanya enak.


ㅤㅤ”Apa rasa asli dari otak manusia memang seenak ini?” Aku menceletuk sambil mengunyah. Koki itu tidak menjawab, mungkin sebal karena ide jahilnya itu gagal. Ia langsung meninggalkanku dan kembali bekerja. Dasar aneh, memang ada tikus di balik topinya?!


ㅤㅤTrunk Hotel. Itu tujuanku selanjutnya. Aku penasaran siapa yang merencanakan ide gila ini, tetapi sepertinya kenyataan asli jauh lebih gila.


ㅤㅤ“Aku yang memesannya sendiri,” jelas pria itu. Jelas ia kelihatan tidak sehat, terlihat dari raut wajahnya yang pucat dan kepala botaknya. Ia si penderita kanker—mungkin baru menjalani kemoterapi. “Membayangkan kanker ini menggerogoti otakku, aku tidak perlu takut lagi menghadapi kematian.”


ㅤㅤDahiku berkerut. Mungkin itulah yang dilakukan orang saat putus asa: Melakukan hal aneh untuk membuat kekhawatirannya berkurang. Kami tidak punya waktu banyak untuk mengobrol, waktu dia untuk hidup pun tidak lama lagi. Kukatakan dokter hanya bisa memprediksi, jadi belum tentu akurat. Dalam hati, aku berkata tentu saja bisa lebih cepat? Hahaha.


ㅤㅤIni menarik. Kutuliskan cerita yang kualami hari ini untuk tugas menulis. Rasanya kurang pantas juga menjadikan kisah sedih orang lain untuk keuntungan pribadi. Namun, saat aku ingin mengunjunginya seminggu kemudian, berhubung aku mendapat nilai A—sangat disayangkan.


ㅤㅤIa mati lebih cepat, sesuai perkiraanku: Setelah semua cupcake itu habis dimakannya.


━━━━━━━━━━ END.

Rabu, 26 Januari 2022

Semakin kebutuhan terpenuhi, skala kebahagiaan juga semakin besar

Semakin kebutuhan terpenuhi, skala kebahagiaan juga semakin besar.


Hal tersebut yang saya sadari ketika melihat seorang tukang parkir yang senang mendapatkan makanan. Hari itu, saya tidak mau makan makanan yang ada di rumah, sehingga memutuskan untuk membeli makanan di luar. Saya memutuskan membeli kwetiau dan duduk menunggu Abangnya menyiapkan pesanan. Kemudian, tukang parkir itu menghampiri Abang penjual.


"Wah, alhamdulillah! Ada yang ngasih tadi di jalan."


Kejadian itu sebenarnya mungkin biasa saja, tetapi saat tukang parkir menyatakan perasaan senangnya, perasaan saya merasa tersentil. Saya, memiliki makanan yang bisa dimakan, tetapi saya mencari makanan lain yang menurut saya lebih enak. Sedangkan tukang parkir tersebut, malah tidak memiliki pilihan. Ketika dirinya diberi makanan, itulah makan malamnya. Uang yang akan ia beli untuk makan malamnya, barangkali terpikir lebih baik disimpan saja. 


Selintas, saya teringat dengan Basic Needs Theory milik Abraham Maslow. Kebutuhan fisiologis seperti makanan, minuman, tempat tinggal, dan lain sebagainya adalah kebutuhan yang bersifat darurat. Tentu saja, manusia tidak bisa hidup tanpa adanya kebutuhan itu terpenuhi. 


Namun, beberapa orang juga berbeda. Kebutuhan fisiologis ini, bagi mereka, bukan sekadar mendapatkan makanan. Ketika tidak merasa kesulitan mendapatkan makanan, opsional untuk jenis makanan bisa dipertimbangkan. Orang kaya yang ingin hidup sehat, mungkin akan berpikir dua kali untuk makan nasi uduk di pinggir jalan (kemungkinan besar juga tidak akan), bahkam meski harganya kurang dari harga sepuluh ribu. Toh, uang sepuluh ribu bukanlah hal sulit, 'kan?


Sebaliknya, kebanyakan orang-orang dengan ekonomi rendah mungkin lebih memilih makanan yang bisa mereka makan saja. Sebagai keterangan, saya juga bukan dari keluarga kaya, dan saya melihat contoh ini dari bapak. Terkadang, ia mengatakan, "Yah, sa-aya-aya wé." (Yah, seadanya saja)


Artinya, semakin kebutuhan dasar bisa terpenuhi, kebutuhan yang berada di atas akan lebih diprioritaskan. Setelah fisiologis, di atasnya ada kebutuhan akan rasa aman, sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri yang berada di puncak segitiga kebutuhan. Sementara, kebutuhan fisiologis dan rasa aman adalah kebutuhan dasar. 


Tidak semua kebutuhan bisa dicapai 100 persen. Selama merasa cukup, kebutuhan yang hanya tercapai 70 persen pun bisa dikatakan terpenuhi. Kembali ke cerita tukang parkir tadi, mungkin kebutuhan fisiologisnya hanya tercapai "makan dua kali sehari". Namun, apabila ia bisa makan dua kali sehari setiap harinya, ia bisa saja merasa cukup. 


Tentunya tidak semua orang bisa tahan dalam situasi demikian. Banyak orang yang berusaha menggapai validasi, ketenaran di media sosial, pendidikan yang tinggi, hal lain semacamnya untuk menunjang dirinya menjadi lebih baik. Pada dasarnya, manusia memang makhluk yang ingin berkembang menunjukkan dirinya. Bisa dilihat banyak orang yang mulai dari nol, akhirnya menjadi seorang yang sukses.


Akan tetapi, tak sedikit orang yang ditemui kelihatannya tidak ada perubahan. Selama bertahun-tahun, saya mengenal banyak penjual sewaktu saya sekolah dasar. Adik saya—memiliki selisih 8 tahun—sekolah di SD yang sama dengan saya, dan penjual yang saya kenal itu masih berada di sana. Saya lulus SD, SMP, SMA, sampai akhirnya kuliah. Saya mengalami perubahan dari waktu ke waktu, tidak berada di tempat yang sama, sementara beberapa orang terus melakukan rutinitas tersebut selama bertahun-tahun. 


Sebuah pertanyaan pun terlontar. Apakah saya mengalami perubahan karena umur saya masih muda? Akankah saya seperti demikian di umur dewasa nanti? Bukankah hidup memang demikian?


Hal tersebut juga pernah dibahas oleh Abraham Maslow. Beberapa manusia, tidak memiliki motivasi untuk berkembang karena berada di titik rendah dalam waktu yang lama. Layaknya zona nyaman, keluar mencoba hal baru pun mungkin tidak terpikirkan. Bagi sebagian orang, mengambil risiko sama saja dengan mati. Dan membicarakan tentang kematian, pernahkah kau terpikirkan bahwa ...


... kasus bunuh diri lebih banyak dilakukan oleh orang-orang yang hidupnya terlihat lebih "enak"? 


Sebutkan saja para musisi yang telah melakukan world tour, penjualan album ratusan ribu atau lebih, dan banyak disukai oleh orang-orang. Ada beberapa di antara mereka yang mengakhiri hidup dengan cara tragis. Bila merujuk pada hieraeki kebutuhan milik Maslow, pertanyaannya, kebutuhan apa yang tidak bisa mereka penuhi? Tentu jawabannya akan sangat kompleks. Di atas kebutuhan dasar, ada kebutuhan sosial yang mencakup akan kasih sayang. Di atas kebutuhan sosial, terdapat kebutuhan akan penghargaan. Berlanjut di puncak, kebutuhan akan aktualisasi diri yang tidak semua orang bisa mencapainya. Untuk mencapai kebutuhan di tingkat atas, haruslah memenuhi kebutuhan yang berada di bawahnya terlebih dahulu. 


Dalam kasus ini, kebutuhan akan kasih sayang pun rasanya jarang sekali bisa terpuaskan. Banyak remaja yang mencari pasangan untuk mencapai kebutuhannya, tetapi seringkali hubungan itu kandas dan kebutuhan itu menjadi tidak terpenuhi. Lebih jauh lagi apabila tidak mendapatkan kasih sayang keluarga, kebutuhan sosial akan kasih sayang pun semakin tidak terpenuhi.


Ini berbeda dengan orang-orang yang memiliki popularitas dengan banyak orang yang mencintainya. Mengapa seseorang mengabaikan komentar-komentar positif orang lain tentang dirinya, kemudian lebih memilih komentar negatif untuk dibalas? Apakah karena ia sudah "terbiasa" mendapatkan cinta tersebut, sehingga ia tidak merasa kesulitan untuk memenuhi kebutuhan itu? Layaknya makanan yang bagi sebagian orang mudah didapatkan, tak sedikit pula orang yang membuang sisa makanan mereka. Menghargai sesuatu karena mudah mendapatkannya rupanya bisa dikatakan merupakan hal yang sulit. 


Manusia adalah makhluk yang tidak akan mencapai kepuasan. Mungkin, kebutuhan-kebutuhan yang mudah didapatkan ini terkadang tidak dihargai karena manusia sendiri tidak akan puas dengan apa yang didapatkannya. Ketika seseorang mendapatkan penghargaan tingkat kecamatan, kebahagiaannya akan meningkat apabila mendapatkan penghargaan tingkat kota, kemudian provinsi, nasional, sampai internasional. Semakin manusia berkembang, tingkat kebahagiaannya akan semakin tinggi.


Perlu diingat, bahagia dan senang adalah dua hal yang berbeda. Bahagia adalah ketenangan batin, bukan pemuasan yang sifatnya sementara layaknya senang. Artinya, jika kebahagiaannya belum tercapai, ketenangan itu tidak akan bisa didapatkan. Apalagi, di era yang penuh akan kebutuhan validasi ini, tak sedikit orang yang diselimuti perasaan gelisah. Khawatir akan pemenuhan kebahagiaannya. 


Semakin kebutuhan terpenuhi, skala kebahagiaan juga akan semakin besar. Jika kematian banyak diserobot oleh orang-orang yang hidupnya terlihat lebih "enak", lantas bagaimana dengan orang-orang yang hidupnya terkesan sulit?


Ketika pandemi melanda, supir ojek online bercerita pada saya, "Kalau ada nasi sama garem, saya makan aja itu, Neng." Bukankah ia sedang berada di titik terendah hidupnya? Namun, yang saya lihat, ia berusaha untuk tetap hidup. Survive akan kehidupan yang semakin lama rasanya semakin pahit. Bukannya tidak memiliki motivasi untuk berkembang, tetapi demotivasi lebih banyak mengelilingi. Demotivasi tidak selalu buruk, tetapi juga diperlukan untuk tetap mendapatkan ketenangan. 


Tidak perlu membandingkan nasib siapa yang lebih melarat untuk memiliki rasa syukur. Setiap orang memiliki kisahnya masing-masing dan kesulitan yang bergantung pada kekuatan dirinya sendiri. Barangkali, kita jarang melihat kehebatan orang-orang yang berada di bawah demotivasi ini. Namun, siapa sangka, bahwa orang-orang inilah yang selalu memiliki keinginan untuk tetap hidup. Toh, pada akhirnya ...


We're all gonna die.


— Sufjan Stevens, Fourth of July

TRIGGER WARNING: Welcome to my office!

  ㅤㅤㅤ ㅤㅤㅤSelamat datang di kantorku! Ayo masuk! ㅤㅤㅤAh, tidak terlihat seperti kantor, ya? Memang, kubuat suasana senyaman mungkin supaya kli...