Selasa, 10 Agustus 2021

LOVE HOTEL

 ️️ ️

️️ 

️️ ️

    𝐋𝐎𝐕𝐄 𝐇𝐎𝐓𝐄𝐋 :

    𝘛𝘩𝘦 𝘸𝘰𝘳𝘥 𝘭𝘰𝘷𝘦 𝘪𝘯 𝘢 𝘱𝘭𝘢𝘤𝘦, 

    𝘥𝘰𝘦𝘴 𝘯𝘰𝘵 𝘮𝘦𝘢𝘯 𝘵𝘩𝘦𝘳𝘦 𝘪𝘴 𝘢 

    𝘧𝘦𝘦𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘰𝘧 𝘭𝘰𝘷𝘦 𝘪𝘯 𝘪𝘵

    ━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━ 

️️ ️

️️


ㅤㅤHari masih gelap, hawa dingin masih agak menusuk ke kulit. Pagi hari, tetapi matahari belum memancarkan sinarnya. Janari. Itu sebutan yang tepat untuk mendefinisikannya.


ㅤㅤDan di saat itulah, aku, seorang remaja berusia tujuh belas tahun, keluar dari "Love Hotel". Tidak, tidak ada "Love Hotel" di Indonesia. Ini bukan Jepang—hanya sebutannya untuk orang-orang sekitar sini, menyebutnya "Love Hotel". Lebih mirip gang kecil yang berisi para pelacur, tetapi di sini siapa pun bisa memasukinya tanpa menyewa penyedia jasa. Artinya, bawa pasangan sendiri jika ingin melakukannya.


ㅤㅤNamanya saja "Love Hotel", tetapi bentuknya semacam ... kontrakan? Kumuh, tetapi bagi yang ingin menyalurkan nafsunya, suasana kumuh ini tidak begitu dipedulikan. Siapa pun bisa memasukinya selama ingin. Aku yang masih pelajar pun bisa masuk, menikmati fasilitasnya, kemudian ...


ㅤㅤ... bercinta?


ㅤㅤKugunakan tanda tanya karena aku sendiri ragu. Jika "bercinta" yang dimaksud adalah melakukan hal seperti kecupan, ciuman, pelukan, atau bahkan lebih hingga melepas balutan pakaian tanpa adanya perasaan cinta itu, maka apa yang kulakukan bisa disebut sebagai "bercinta". Maksudku, hal-hal yang kusebutkan adalah bentuk wujud dari cinta, itu adalah salah satu cara menyampaikannya. Hanya saja, apa memang harus ada perasaan cinta di dalamnya?


ㅤㅤNamun, jika "bercinta" yang dimaksud adalah menjalani hubungan dengan perasaan cinta, maka aku tidak melakukan hal demikian.


ㅤㅤHoodie yang kukenakan tidak begitu membantu untuk menghangatkan. Kulipat kedua lengan di depan dada, berjalan dengan sedikit menunduk untuk menahan dingin. Kamar yang kumuh itu memang tidak begitu hangat, tetapi akan lebih hangat di sana karena ...


ㅤㅤ... Uhm.


ㅤㅤYah, kutinggalkan gadis itu. Gadis yang menjadi "teman" tidurku semalaman ini. Ah, sebenarnya, sudah beberapa kali. Bukan aku yang menawarkannya, tapi dia. 


ㅤㅤAku bukan orang yang akan terikat dengan hubungan. Begitu "milikku" sudah digunakan, waktunya mencari orang lain. Perempuan, tepatnya, karena aku seorang heteroseksual.


ㅤㅤAkan tetapi, kali ini berbeda. Gadis itu—yang kutinggalkan pagi ini—sudah beberapa kali melakukannya denganku. Pertemuan pertama itu berlangsung canggung, dia sama sekali belum pernah melakukannya. Itu artinya, aku adalah orang pertama baginya.


ㅤㅤDia terlihat ragu. Malu-malu, tetapi aku bisa mengetahui kalau dia mau. Ini lucu. Kalau dia belum pernah melakukannya sebelumnya, lantas kenapa memilih aku?


ㅤㅤ“Aku takut melakukannya dengan yang lebih tua. Kau ... Mungkin karena masih berusia tujuh belas, kupikir lebih ... aman?”


ㅤㅤBodoh. Kenapa sekarang dia malah sok? Apa maksudnya karena aku lebih muda, dia terkesan lebih memiliki pengalaman? Ah, dia sampai menanyakan kenapa aku tidak melakukannya dengan yang seumuran denganku saja. Mereka bukan tipeku. Lebih tua dariku, tetapi tidak begitu jauh juga, itu adalah tipeku.


ㅤㅤTipeku untuk "bercinta".


ㅤㅤBegitu dia mengatakan kalau aku ini lebih "aman", aku hanya bisa tertawa. Oh, astaga. Aku jauh lebih berpengalaman soal ini daripada dirinya yang berusia dua puluh dua. Namun, dia telah memilihku dan akan disayangkan bila aku keluar dari "Love Hotel" tanpa melakukan apapun. 


ㅤㅤMaka, kami melakukannya. Tidak ada paksaan. Jika ada, aku melakukan tindakan kriminal. Dia memang malu, tetapi pada akhirnya dia melepas busananya tanpa kuminta. Sementara, aku sudah mengatakan sebelumnya, jika masih ragu, batalkan saja.


ㅤㅤKali pertama itu, setelah melakukannya, kami sempat mengobrol beberapa lama. Dia menceritakan hidupnya, dari yang penting sampai hal-hal remeh. Aku mendengarkan, tetapi hal yang kuanggap penting saja. Ceritanya bagaikan cookies, kulahap dan remah-remah kubiarkan jatuh begitu saja. Ceritanya pernah bertemu seorang lelaki yang menyakitinya? Sesama perempuan yang menyukainya? Buang saja.


ㅤㅤSayangnya, tidak ada yang menarik dari gadis ini. Ketika dia mengatakan bahwa dia alergi terhadap kacang, aku jauh lebih penasaran kenapa orang-orang bisa alergi terhadap makanan itu, daripada mempedulikan dia yang bisa saja salah makan karena tidak memerhatikan komposisinya. Mungkin nanti, kusengaja saja menaruh bubuk kacang di makanannya.


ㅤㅤAku 'kan, mau tahu. Lagipula, aku ini si ranking satu. Perguruan Tinggi Negeri adalah impianku saat ini. Mana mau aku mengikat diriku dengan sebuah hubungan?


ㅤㅤMungkin di mata orang-orang, seorang sepertiku tidak akan mungkin melakukan hal seperti ini. Aku berkacamata, seorang anak SMA jurusan IPA, terlihat seperti kutu buku yang tidak mungkin melakukan hal-hal "nakal". Bodohnya, apa mereka lupa dengan pepatah "Jangan melihat orang dari tampangnya"? Aku adalah buktinya.


ㅤㅤRaut wajahnya sampai terbelalak tak percaya begitu mengetahui aku anak yang berprestasi di sekolah. Hah, memangnya anak yang berprestasi itu sama dengan anak yang baik? 


ㅤㅤSetelah pertemuan pertama itu, seharusnya kami tidak berhubungan lagi. Atau setidaknya, tidak terlalu sering. Dia bisa mencari orang lain, tetapi dia memaksa menemuiku. Mengatakan kalau aku membuatnya nyaman, rindu dengan suaraku, ingin mengobrol denganku ...


ㅤㅤ... Dan ingin bercinta lagi denganku.


ㅤㅤTanpa harus menyulitkan diri, kuterima lagi ajakannya. Kedua, ketiga, itu masih kuterima. Lama-lama, ia menunjukkan perasaannya. Memang dia tidak mengatakannya, tetapi aku bisa merasakannya. Bagaimana cara dia memandangku, bagaimana cara dia berbicara denganku ...


ㅤㅤPerempuan ini ... menyukaiku.


ㅤㅤAku harus meninggalkannya.


ㅤㅤAkan jauh lebih sulit kalau kami terus-terusan bertemu, kemudian dia mengharapkan balasan dari perasaannya. Aku tidak mau, serta tidak bisa.


ㅤㅤIni pertemuan terakhir kami. Diam-diam kumasukkan obat tidur di minumannya, kemudian kami "bercinta" lagi ...


ㅤㅤ... Yang tidak membuatku bergairah sama sekali. Hah, yang benar saja?! Dia saja yang diuntungkan selama ini. Aku yang berpengalaman, bisa menilai mana seks yang memberikan kenikmatan dan mana yang hanya asal-asalan. Maksudku, aku pernah mendengar golongan boomer mengatakan, "Kautidak perlu tahu soal seks! Nanti juga kaubisa sendiri!"


ㅤㅤJika mengingat hal itu, aku hanya bisa tergelak. Bisa sendiri, katanya? Hei, saat pertama kali melakukan ini, aku bahkan seperti bayi yang belajar berjalan. Tetapi karena aku sudah remaja, aku malah jadi seperti orang tolol. 


ㅤㅤSekarang hampir pukul lima pagi, masih ada beberapa jam untuk sekolah. Semoga aku tidak ketahuan Ayah kalau aku baru tiba di rumah pagi ini. Ah, Ayahku itu, selalu ingin mencampuri urusanku sementara dia sendiri sering bergonta-ganti pasangan. Aku membencinya. Dan ... Huh, aku yakin, penisnya itu sudah memasuki banyak lubang.


ㅤㅤGawaiku bergetar, ada panggilan masuk. Aku tidak peduli. Pasti gadis itu. Beberapa kali sampai aku rasanya ingin melempar gawaiku, tetapi aku tetap tidak mengangkatnya. Aku harus pulang.


ㅤㅤBegitu sampai di depan rumah, aku mengecek gawaiku. Panggilan masuk sudah berhenti, tetapi pesan yang masuk banyak sekali.


ㅤㅤ“Kenapa kaupergi?”


ㅤㅤ“Tolong jelaskan, apa aku berbuat salah?”


ㅤㅤLantas aku memainkan gawaiku, mengetik pesan sebelum akhirnya memblokir semua kontaknya.


ㅤㅤ“Maaf, tolong jangan menyukaiku. Aku harus pergi, sebelum perasaanmu semakin dalam. Carilah lelaki lain, jangan aku.”


ㅤㅤDan begitulah ceritanya, yang menjadi akhir dari kisah kami. Mungkin, ia harus memahami. Aku yang berusia lebih muda daripadanya, bukan berarti aku lebih memiliki pemikiran yang "suci". Aku yang merupakan peringkat satu, bukan berarti aku tidak memiliki pemikiran untuk hal-hal semacam ini. Aku yang membenci Ayahku karena dia bergonta-ganti pasangan, bukan berarti aku tidak akan melakukan hal yang mirip dengannya. Serta, "Love Hotel" yang menjadi tempat untuk "bercinta", bukan berarti selalu ada perasaan cinta di dalamnya.


━━━━━━━━━━  END.

Jumat, 30 April 2021

CERME (Cerita dari Meme) : Menuju Indonesia 4.0

Suatu hari di sebuah negara, petinggi-petinggi di sana sedang sibuk membicarakan sebuah
proyek besar. Proyek ini menyangkut kehidupan rakyat negaranya dalam jangka waktu lama.
Kertas yang ada di atas meja itu terlihat bertuliskan Menuju Indonesia 4.0.

Peserta rapat di sana terlihat menjaga jarak, mengenakan masker, serta sudah mencuci tangan. Katanya, sih, enggak percaya sama virus yang sedang merajalela, tapi protokol kesehatan tetap dilakukan biar dapat izin aja.

Ups

“Kita akan membangun sebuah sillicon valley!” seru salah satu petinggi rapat. Peserta rapat yang lain mengangguk, menyambut baik ide tersebut. Namun, salah satu peserta garuk-garuk kepala.

Sillicon valley tuh apa, Pak?”

Ndeso!” Merasa paling gaul, bapak petinggi rapat searching google untuk menjelaskan. Akan tetapi, loading-nya malah lama sekali!

“Coba restart dulu, Pak..”


Kerjaan admin Indihome setap saat


“Aduh, pokoknya gini, deh! Makanan yang ada di sana akan dibantu oleh teknologi!” seru bapak petinggi, tidak mau menjelaskan lagi.

Tjakep!” tanggap peserta rapat. Peserta yang tidak tahu sillicon valley pun manggut-manggut.


Sangat canggih bukan?


“Kemudian lalu lintas akan dibantu oleh robot!”

Mantul!


Robot ini maksudnya


“Warga bisa 3D print!

Beeeeuh!

Peserta rapat makin bersemangat, tak lupa mengacungkan dua jempol sebagai apresiasi. Di benak mereka, terlintas hal-hal apa saja yang akan mereka lakukan jika tinggal di tempat yang penuh dengan teknologi.



Bayangin aja dulu


“Ada fotokopi!”

….Hening.

“Fotokopi buat apa, Pak?”

“Lah, buat fotokopi KTP, akta kelahiran, KK, SIM, dan lain-lain di data Dukcapil lah!”



Siapa tahu masih pakai fotokopian


Di tengah rapat, pintu tiba-tiba terbuka. Terlihat sosok mengerikan, gelap, membanting pintu dengan kasar. Lantas berkata…

Ngok!

Rupanya itu seekor babi.

Ngok! Sok sok mau bikin sillicon valley, ngok! Kami enggak salah apa-apa, malah ada keluarga kami yang ditangkap karena dituduh ngambil duit warga, ngok! Iri dengki pula kalau ada yang punya duit banyak, tapi malah kami yang dituduh!”


Kasihan babi


Salah satu babi lain menambahkan, “Tau tuh, ngok! Padahal dia sendiri yang lupa kalau duitnya dipinjemin ke temennya dan enggak dibalikin!”



Awas lupa bayar utang


Urusan dengan para babi belum selesai, datang satu pasukan bola hijau bergelinding memasuki ruangan. Ketua mereka, dengan ukuran yang lebih besar menancapkan sebuah bendera di tubuhnya sendiri, bendera itu bertuliskan Persatuan Klepon Indonesia.

“Kami juga dituduh! Bisa-bisanya kami dituduh makanan yang tidak islami! Padahal kami biasa menemani para warga di saat saat lebaran! Mau masuk era 4.0 gimane kalau persatuan aje belum dijaga!”

Seruan tetua klepon itu disambut meriah oleh para Rapon, alias rakyat klepon. Lalu klepon yang berukuran sedikit lebih kecil pun menggelinding di samping tetua klepon, sepertinya itu adalah istrinya.

“Padahal tuh ya, yang haram tuh si bakso beranak! Bapaknya aje kagak ada!” Malah julid.


Mungkin bapaknya yang suka pakai walkie talkie


Ruang rapat menjadi gaduh, banyak yang memprotes proyek 4.0 ini karena dirasa belum siap untuk beradaptasi dengan teknologi yang ada. Ruang rapat makin gaduh, saling beradu argumen.

Ada yang masih mendukung pembangunan sillicon valley tersebut, ada yang mulai menolak.
Salah seorang warga desa pun berteriak menggunakan toa, membuat kaget semua orang.

SEBELUM MENUJU 4.0, MENDING BIKIN TOILET DULU! MASIH BANYAK YANG BAB SEMBARANGAN, TAU!”


Data tahun 2020 menyebutkan bahwa di Indonesia
terdapat 32,24 juta jiwa masih Buang Air Besar sembarangan

END

Catatan dari penulis :
Kisah ini hanya fiksi semata, tetapi kasus-kasus di dalamnya adalah nyata. Penulis bermaksud menyampaikan masalah-masalah yang ada di Indonesia dari keluh-kesah netizen melalui tweet dan juga meme. Dibuat untuk tugas, tetapi di-post di sini juga! Hehe.

TRIGGER WARNING: Welcome to my office!

  ㅤㅤㅤ ㅤㅤㅤSelamat datang di kantorku! Ayo masuk! ㅤㅤㅤAh, tidak terlihat seperti kantor, ya? Memang, kubuat suasana senyaman mungkin supaya kli...