Rabu, 03 Juni 2020

A UNTUK AMANDA: KETIKA MERASA TIDAK PUAS DENGAN DIRI SENDIRI




Semenjak adanya iPusnas, gue yang suka baca buku tapi terhalang dengan uang, bener-bener merasa terbantu dengan hadirnya aplikasi resmi ini. Apalagi, buku-bukunya legal. Tapi ya, harus tahan aja baca lewat ponsel. 

Dan baru beberapa hari lalu gue membaca buku yang berjudul "A untuk Amanda", novel karya Annisa Ihsani ini menceritakan tentang Amanda yang merupakan anak pintar di sekolah, selalu mendapatkan nilai A, seorang agnostik, tertarik dengan sains, dan punya sahabat bernama Tommy (yang nantinya akan menjadi pacar Amanda di sini). 

As always, kalau kalian pernah baca novel Annisa Ihsani yang lain, pasti enggak asing lagi kalau dia selalu menyertakan sains di ceritanya. Gue pun baru tahu kalau Teori Bigbang yang selama ini kita kenal dengan ledakan, rupanya bukan ledakan. 

Nah, kembali ke cerita. Di awal cerita, gue udah gemas sendiri sama interaksi Tommy dan Amanda. Jadi mereka ini punya kesepakatan setiap awal bulan buat duduk bareng di kantin. Lucu kan? Kemudian, kita bakal ketemu tokoh-tokoh lainnya yang merupakan teman-teman Amanda. 

Konflik Amanda sendiri dimulai waktu dia ingin menjawab pertanyaan guru, namun gurunya ingin memberikan kesempatan bagi anak lain untuk menjawab. Ternyata, jawaban Amanda ini salah. Untungnya ia tidak menjawab. Di sinilah ia merasa kalau dirinya adalah seorang penipu, ia mendapat nilai A karena keberuntungan. Lalu, ada juga saat Amanda mengumpulkan esai, ia mendapat nilai A. Tapi dirinya merasa itu seharusnya mendapat B. 

Dari sini, gue bisa relate sama Amanda yang khawatir akan masa depannya. Dia takut setelah lulus enggak dapat pekerjaan yang layak. Mengingat dia hanya tinggal bersama ibu, karena ayahnya sudah meninggal. 

Untuk novel yang membahas mental illness, permasalahan Amanda sendiri gue rasa enggak terlalu berat. I mean, dia enggak dibully, hubungannya dengan sang ibu juga cukup dekat, nilainya juga bagus. Tapi di sinilah, gue rasa Annisa Ihsani ingin menyampaikan bahwa orang yang enggak mengalami permasalahan tersebut pun bisa mengalami depresi. Kondisi Amanda yang merasa dirinya enggak pantas, disebut sindrom penipu. Umumnya dialami oleh orang-orang yang merasakan keberhasilan. Ketika itu, mereka bakal merasa kalau yang mereka capai itu adalah kebohongan, mereka merasa enggak cukup. 

Dan ya, tentu ada sindiran di mana orang yang mengalami depresi pasti akan disarankan untuk dekat pada Tuhan. Amanda yang agnostik, tentu sulit untuk melakukannya. Agnostik sendiri berbeda dengan ateis, ya. Kalau agnostik, mereka masih yakin dengan adanya Tuhan atau adanya sesuatu di alam semesta yang tidak diketahui keberadaannya. Hanya saja, mereka ragu dengan agama. Bukan hanya itu, banyak juga yang menyepelekan kalau depresi bisa diatasi dengan liburan. 

Ada kata-kata yang gue sukai di sini dari Helena, sewaktu Amanda menceritakan kalau Tommy mengatakan bahwa depresi hanya di pikirannya. Helena mengatakan, "Tentu saja depresi itu ada di kepala, memang mau di mana? Di paru-paru?" 

Rupanya, Helena adalah teman yang baik. Hanya di sini ia diremehkan karena sering berdandan dan berpacaran. Padahal pada akhirnya, dia yang paling peduli dan mengerti Amanda. Duh, respect buat Helena! *acungin jempol* 





Itu salah satu part lagi yang gue suka, seakan sindiran bahwa manusia cuma seonggok kecilnya alam semesta. Jadi, gelar semacam itu bukan hal penting. 

Rate untuk novel ini.. 7.5/10. Buku dengan 200-an halaman ini cukup mudah dimengerti. Diksi yang digunakan layaknya novel terjemahan. Sayangnya yang membuat gue bingung ini latarnya seperti di luar negeri, tapi nama-namanya seperti di Indonesia. 

But well, buku ini tetap bagus untuk dibaca. Selain menambah ilmu tentang sains, kalian juga bisa memahami orang lain. Dan tentu untuk jangan memikirkan apa yang orang lain pikirkan. Maksudnya untuk beberapa hal, orang lain enggak akan sepeduli itu. Lo mau gap year, kuliah dekat rumah, ya paling orang lain cuma ber-oh-ria. Tamparan keras buat Amanda (dan juga gue, hehehe). 

TRIGGER WARNING: Welcome to my office!

  ㅤㅤㅤ ㅤㅤㅤSelamat datang di kantorku! Ayo masuk! ㅤㅤㅤAh, tidak terlihat seperti kantor, ya? Memang, kubuat suasana senyaman mungkin supaya kli...