𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐊𝐮𝐫𝐢𝐫 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫 𝐏𝐚𝐤𝐞𝐭
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
ㅤㅤ“Keira, punya cerita menarik?” Di sela waktu makan siang, aku menyempatkan diri untuk mengerjakan tugas sastraku. Sudah pasti aku akan diomeli terlebih dahulu karena mengerjakan PR di meja makan. Sementara tangan kanan menulis, tangan kiri memegang sumpit. Yah, aku tidak bisa menulis menggunakan tangan kiri.
ㅤㅤ“Kehidupanku penuh olehmu,” dengusnya kesal. Benar, 'kan? Kemudian ia akan melanjutkan, “Dan tolong, kita bukan orang Barat yang memanggil dengan nama saja pada yang lebih tua! Kau harus sopan padaku!”
ㅤㅤKalau Kenta adalah nyamuk, omelan Keira adalah semprotan pembasminya. Masalahnya, Kenta sudah kebal. Jadi omelan itu tidak pernah dipedulikan, layaknya kata-kata yang masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Tanpa memedulikan omelan itu, Kenta hanya akan melanjutkan topik awalnya.
ㅤㅤ“Ah, aku benci tugas menulis. Maksudku—menulis cerita menarik?! Seperti anak SD saja. Memang apa cerita menarik dari anak umur 17 tahun di era digital ini? Kebanyakan sudah mengalami quarter life crisis lebih cepat,” ocehanku memenuhi ruangan. Atau mungkin satu rumah. Toh, hanya kami berdua di rumah jika tidak ada Ayah.
ㅤㅤ“Kau meminta saranku? Baiklah, apa yang kau lakukan di hari Jumat?”
ㅤㅤ“Dua hari lalu ... Aku melempar batu ke kolam milik Pak Shinohara.”
ㅤㅤKeira merengut. “Untuk apa?”
ㅤㅤ“Menghitung kecepatan batu tenggelam di kolam berdasarkan tingkat kedalaman air.”
ㅤㅤ“Uhm—oke. Lalu, bagaimana dengan kemarin? Hari Sabtu.”
ㅤㅤ“Aku mengambil batu-batu yang kulemparkan di kolamnya pada hari Jumat.”
ㅤㅤMendengus. “Sudahlah, hidupmu memang tidak menarik.”
ㅤㅤLupakan saja, Keira sama sekali tidak membantu. Menyebalkan sekali. Aku belum menuliskan sepatah kata pun, entah mau menulis apa. Oh, ayolah, aku lebih memilih mengerjakan seribu soal matematika daripada menulis satu cerita. Ini membuatku gila!
ㅤㅤGawaiku bergetar. Kutaruh sumpit dan menyalakan gawaiku, semoga saja ini tidak berhubungan dengan pa—
ㅤㅤ“Paket sialan.”
ㅤㅤRasanya masih dendam dengan kejadian minggu lalu. Aku tidak semangat bekerja, tapi masih membutuhkan uang. Setidaknya, gajinya cukup besar. Yah, walau harus siap di segala waktu karena pengiriman bersifat mendadak.
ㅤㅤKeira memandang aneh. “Kenapa? Pengirimanmu?”
ㅤㅤAh, ya. Dia baru saja mengetahui soal pekerjaan paruh waktuku minggu lalu SETELAH aku mengomel habis-habisan sepulang dari Osaka. Kuanggukkan kepala sebagai tanggapan. “Benar, di jam makan siang lagi.”
ㅤㅤApa mereka tidak bisa memberikan tugas di luar jam makan?! Menyebalkan. Dengan cepat, kuhabiskan makanku, layaknya orang dewasa yang bekerja kantoran. Mereka sampai harus makan berdiri untuk menghemat waktu. Hidup macam apa yang seperti itu? Memiliki banyak uang tetapi tidak bisa menikmati hasil jerih payahnya dengan baik. Konyol.
ㅤㅤKurang dari satu jam, aku sampai di Shabu-Shabu Course. Barang yang harus kuambil berada di tempat ini. Tidak perlu berlama-lama, aku tinggal mengambil paket, kirimkan, selesai. Begitu, 'kan?
ㅤㅤ“Ya, begitu. Kali ini hati-hati, pengirimanmu kali ini adalah makanan. Cupcake,” kata pria yang mengaku sebagai koki. Mungkin ia sudah tahu kalau aku memang ditugaskan untuk mengantarkan berbagai macam barang.
ㅤㅤ“Oh, ada yang ulang tahun?” tanyaku. Bukan penasaran, berbasa-basi saja.
ㅤㅤ“Tidak. Orang yang menerimanya terkena kanker otak, jadi cupcake-nya berbentuk ...”
ㅤㅤIa menjeda, kemudian membuka kotak itu. “OTAK MANUSIA!”
ㅤㅤSIALAN. Tidak—aku tidak takut pada bentuk cupcake-nya, melainkan karena “niat” yang dilakukan. Orang penderita kanker otak diberi cupcake berbentuk otak? Oke, jika ia memakannya—seperti menggambarkan kankernya menggerogoti otaknya. Ide gila, tapi menarik. Apa pemesannya sejenis psikopat?
ㅤㅤ“Kau mau coba?” Koki itu menawari satu cupcake yang tidak berada di kotak, lantas tertawa. Mungkin ia mengira kalau aku akan bergidik ngeri. Tidak, aku dengan senang hati menerimanya dan memakannya. Sial, rasanya enak.
ㅤㅤ”Apa rasa asli dari otak manusia memang seenak ini?” Aku menceletuk sambil mengunyah. Koki itu tidak menjawab, mungkin sebal karena ide jahilnya itu gagal. Ia langsung meninggalkanku dan kembali bekerja. Dasar aneh, memang ada tikus di balik topinya?!
ㅤㅤTrunk Hotel. Itu tujuanku selanjutnya. Aku penasaran siapa yang merencanakan ide gila ini, tetapi sepertinya kenyataan asli jauh lebih gila.
ㅤㅤ“Aku yang memesannya sendiri,” jelas pria itu. Jelas ia kelihatan tidak sehat, terlihat dari raut wajahnya yang pucat dan kepala botaknya. Ia si penderita kanker—mungkin baru menjalani kemoterapi. “Membayangkan kanker ini menggerogoti otakku, aku tidak perlu takut lagi menghadapi kematian.”
ㅤㅤDahiku berkerut. Mungkin itulah yang dilakukan orang saat putus asa: Melakukan hal aneh untuk membuat kekhawatirannya berkurang. Kami tidak punya waktu banyak untuk mengobrol, waktu dia untuk hidup pun tidak lama lagi. Kukatakan dokter hanya bisa memprediksi, jadi belum tentu akurat. Dalam hati, aku berkata tentu saja bisa lebih cepat? Hahaha.
ㅤㅤIni menarik. Kutuliskan cerita yang kualami hari ini untuk tugas menulis. Rasanya kurang pantas juga menjadikan kisah sedih orang lain untuk keuntungan pribadi. Namun, saat aku ingin mengunjunginya seminggu kemudian, berhubung aku mendapat nilai A—sangat disayangkan.
ㅤㅤIa mati lebih cepat, sesuai perkiraanku: Setelah semua cupcake itu habis dimakannya.
━━━━━━━━━━ END.